Monday, 13 November 2017

Tulisan “Allah” dan “Ali” Ditemukan pada Pakaian Pemakaman Viking


Tulisan “Allah” dan “Ali” ditemukan pada pakaian pemakaman Viking. Kedua kata itu ditenun dengan pola Kufic geometri yang dirajut dengan benang perak di atas sutra.

Ini bukan sekadar kebetulan. Pasalnya, tulisan “Allah” dan “Ali” ditemukan pada sedikitnya 10 dari 100 pakaian sutra dalam kuburan kapal abad ke-9 dan ke-10 di sekitar Gamla, Uppsala, dan juga di ruang kuburan di situs Viking seperti di Birka, Swedia Mälardalen.

"Ini adalah penemuan yang sangat penting karena ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat melihat periode historis ini sebagai 'khas Nordik'," kata Annika Larsson, seorang arkeolog tekstil di Universitas Uppsala, kepada The Local 12 Oktober 2017.

"Ini menunjukkan kepada kita bahwa orang Viking memiliki kontak dekat dengan budaya lain, termasuk dengan dunia Islam," imbuhnya lagi.

Temuan ini terjadi ketika Larsson dan timya tengah membuat kembali pola pada pakaian penguburan untuk pameran Viking “Viking Couture” di Museum Enköping di Swedia.

Dia sempat kelimpungan memahami arti dari kedua tulisan tersebut. Namun, dia ingat pernah melihat pola serupa pada tekstil Moor dari Spanyol. Sebagai informasi, Moor merupakan orang muslim di zaman petengahan yang hidup di semenanjung Iberia yang kini berada di wilayah Spanyol dan Portugis.

Bagi tim arkeolog, menguraikan aksara “Ali” relatif lebih mudah. Sebab, tulisan “Allah” pada pakaian terbalik dan baru bisa dibaca ketika dipantulkan pada kaca.

Tulisan "Allah" yang bisa dibaca saat dipantulkan ke kaca

Kepada BBC 12 Oktober 2017, Amir De Martino dari Islamic College, London, berkata bahwa penjelasan yang paling mungkin adalah pola itu disalin dengan tidak benar.

(Baca juga: Kenapa Orang Islam Shalat Saat Gerhana?)

Larsson percaya bahwa bangsa Viking tidak semata menjalin hubungan perdagangan dengan dunia Muslim, tetapi juga pertukaran kebiasaan dan gagasan.

"Agaknya, kebiasaan pemakaman Viking dipengaruhi oleh Islam dan gagasan tentang kehidupan kekal di surga setelah kematian," kata Larsson seperti dikutip dari Science Alert 13 Oktober 2017.

Dia melanjutkan, barang-barang pemakaman, seperti pakaian indah yang dijahit halus dengan kain eksotis hampir tidak mencerminkan kehidupan sehari-hari mendiang. Hal ini sama seperti pakaian formal zaman kita yang tidak mencerminkan kehidupan kita sehari-hari.

"Bahan makam yang kaya seharusnya dipandang sebagai ungkapan nyata dari nilai-nilai yang mendasarinya," tambahnya lagi.

Meski penemuan ini sangat menarik, beberapa temuan terkait budaya Viking dan Muslim telah lebih dulu terjadi.

Pada 2009 lalu, misalnya, para arkeolog menemukan pedang Viking Ara menggunakan teknik pembuatan logam Arab. Hal ini kemungkinan terjadi melalui jalur perdagangan Volga.

Lalu, pada 2008, timbunan koin Arab pada zaman Viking ditemukan di Swedia.

Kemudian, dua tahun yang lalu, sebuah cincin juga ditemukan di sebuah kuburan wanita abad ke-9 di Birka, Swedia. Pahatan di cincin bertuliskan "Kepada Allah" dalam bahasa Arab.

Selain itu, sutra Persia juga ditemukan di pemakaman kapal induk Viking di Norwegia.

Sayangnya, kita masih memerlukan riset lebih jauh untuk mengungkap arti penggunaan pakaian dan benda mewah dalam pemakaman Viking.

Penelitian lebih lanjut juga dibutuhkan untuk memastikan apakah mayat tersebut berasal dari Persia atau orang Viking yang mengenakan tekstil Islami.

Menanggapi penemuan ini, sejarawan pakaian dan teksil Hilary Davidson dari Universitas Sydney, yang meneliti transmutasi tekstil Islami dan Bizantium di abad pertengahan pakaian Kristen, berkata bahwa dia tidak akan heran bila penelitian membuktikan bahwa yang dikubur adalah orang Viking.

Pasalnya, kualitas tekstil sutra Islami sangat didambakan dan digunakan di gereja-gereja Kristen di seluruh Eropa, dan untuk pakaian, pada masa lalu.

"Mereka dihargai karena kualitas dan keindahannya, bukan konteks religius mereka, yang dalam kasus apapun menjadi terpisah melalui pola perdagangan. Sutra ini diperdagangkan di seluruh Eropa selama berabad-abad, dan mungkin saja pola Kufic Norwegia meniru pola tekstil Islami tanpa mengetahui artinya," ujarnya.

Menurut Davidson, ada kemungkinan juga bahwa kain tersebut digunakan pada pakaian Viking sebagai simbol status yang tinggi.

Temuan Larsson dan timnya dipajang sebagai bagian dari pameran “Viking Couture” di Museum Enköping hingga 3 Februari 2018 mendatang

Asteroid Alien Mendekati Kita dan Ini yang Terjadi jika Hantam Jakarta

Asteroid A/2017 U1, nampak sebagai bintik putih kecil di tengah-tengah dengan latar belakang garis-garis putih. Diabadikan dengan teleskop William Herschell (4,2 meter) di Observatorium La Palma, Canary (Spanyol) pada 25 Oktober 2017 TU. Teleskop disetel mengikuti gerak asteroid, sementara gerak asteroid tidak sama dengan gerak semu bintang-bintang. Sehingga bintang-bintang tersebut terlihat sebagai garis-garis.

Pertengahan Oktober 2017, Bumi baru saja kedatangan tamu spesial.

Sebuah benda langit, mampir dalam tata surya kita. Bukan komet, ini merupakan asteroid kecil yang berdiameter 150 sampai 500 meter, yang diberi nama asteroid alien A/217 U1.

Ibaratnya, asteroid ini seperti kerikil di tengah luasnya hamparan tata surya. Meski begitu, semua mata khususnya astronom sangat tertarik untuk memelototinya.

Asteroid ini sangat menarik, dan tergolong asteroid alien. Disebut demikian karena asteroid ini tidak berasal dari tata surya kita. Juga tidak terikat pada satu bintang induk dalam galaksi. Alias asteroid yatim.

Banyak juga yang menyebut, asteroid ini merupakan pengelana yang hanya singgah sebentar dalam tata surya kemudian pergi lagi untuk seterusnya.

Dalam artikel yang ditulis laman blog Ekliptika, astronom amatir Marufin Sudibyo mengungkapkan bahwa asteroid alien merupakan bagian dari benda langit yang terdorong sangat jauh hingga terusir ke luar dari lingkungan tata surya.

Benda langit yang terusir ini melalang buana di ruang antar bintang.

Orbit asteroid A/2017 U1 pada 25 Oktober 2017 TU terhadap orbit planet-planet inferior. Nampak asteroid berasal dari belahan langit sebelah utara ekliptika dan bergerak secara retrograde atau berlawanan arah dengan arah gerakan planet-planet inferior pada umumnya.
Orbit asteroid A/2017 U1 pada 25 Oktober 2017 TU terhadap orbit planet-planet inferior. Nampak asteroid berasal dari belahan langit sebelah utara ekliptika dan bergerak secara retrograde atau berlawanan arah dengan arah gerakan planet-planet inferior pada umumnya.

Setelah dilakukan penelitian akumulatif sampai Kamis (26/10/2017) terkumpul 59 data yang mendukung benda ini memenuhi karakter asteroid.

Apa jadinya jika asteroid alien waktu itu mendarat di Bumi?

Hasil simulasi dampak gelombang kejut dan paparan panas bilamana asteroid A/2017 U1 jatuh di Jakarta dan melepaskan energi tumbukan 18.100 megaton TNT. Seluruh bangunan yang ada dalam lingkaran 5 psi akan runtuh akibat menerima tekanan-lebih yang setara 5 psi atau lebih besar lagi. Sementara seluruh manusia yang ada di dalam lingkaran lukabakar-3 akan mengalami luka bakar tingkat 3, yakni luka bakar yang menembus segenap lapisan kulit hingga merusak syaraf dan berpotensi mematikan.
Hasil simulasi dampak gelombang kejut dan paparan panas bilamana asteroid A/2017 U1 jatuh di Jakarta dan melepaskan energi tumbukan 18.100 megaton TNT. Seluruh bangunan yang ada dalam lingkaran 5 psi akan runtuh akibat menerima tekanan-lebih yang setara 5 psi atau lebih besar lagi. Sementara seluruh manusia yang ada di dalam lingkaran lukabakar-3 akan mengalami luka bakar tingkat 3, yakni luka bakar yang menembus segenap lapisan kulit hingga merusak syaraf dan berpotensi mematikan.

Jarak terdekat asteroid alien A/2017 U1 pada bumi masih lebih besar dibanding ambang batas 0,05 SA. Sebab itu asteroid ini tidak berpotensi membahayakan bumi. Peluang untuk bertabrakan dengan Bumi adalah nol.

Tapi, kalau sampai jatuh ke bumi dampaknya sangat besar. Marufin Sudibyo membuat simulasi dengan Down2Earth. Ia memperlihatkan asteroid yang berdiameter 400 meter dan berpori(massa jenis 1.500 kg/m3) itu bakal melesat dengan kecepatan 60 km/detik menuju bumi.

Tepat sebelum memasuki atmosfer energi kinetiknya sebesar 21.600 megaton TNT. Sepanjang menembus atmosfer, kecepatannya akan berkurang sedikit sehingga kala tiba di paras Bumi masih secepat 54,9 km/detik dengan energi tumbukan setara 18.100 megaton

Energi itu setara dengan hulu ledak nuklir pada puncak Perang Dingin. Pelepasan energi sebesar itu akan menyebabkan dampak spontan yang bisa dirasakan hingga radius 580 kilometer dari titik tumbuk, berdasarkan simulasi ledakan nuklir.

Secara global, tumbukan juga bisa memicu tahun tanpa musim panas akibat kandungan aerosol sulfat dan jelaga.

Baca Juga: Inilah Gambaran Bencana Besar akibat Asteroid pada Masa Dinosaurus

Pada titik jatuhnya dapat membentuk cekungan kawah besar berdiameter 3,7 km dan kedalaman maksimum 440 meter.

Bagaimana jika jatuh di pusat kota Jakarta? "Cukup untuk menelan tugu Monas hingga 4 tumpuk," ujar Marufin.

Hasil simulasi dimensi kawah produk tumbukan bila asteroid A/2017 U1 jatuh di Jakarta (titik Gedung DPR-MPR) pada kecepatan awal 60 km/detik. Diameter asteroid 400 meter bisa membuat kawah dengan lebar 3,7 kilometer dan kedalaman 440 meter. Energi tumbukan mencapai 18.100 megaton TNT.
Hasil simulasi dimensi kawah produk tumbukan bila asteroid A/2017 U1 jatuh di Jakarta (titik Gedung DPR-MPR) pada kecepatan awal 60 km/detik. Diameter asteroid 400 meter bisa membuat kawah dengan lebar 3,7 kilometer dan kedalaman 440 meter. Energi tumbukan mencapai 18.100 megaton TNT.

Asteroid A/2017 U1 kini terus melaju dalam lintasannya meninggalkan tata surya. Dari sisi astronomi, singgahnya asteroid A/2017 U1 membuktikan bahwa galaksi Bima Sakti kita memang memiliki benda-benda langit yang tak terikat ke satu bintang tertentu.

Sejak 1998 TU kita sudah mengenal adanya kelompok planet yatim. Meski hingga saat ini baru dua saja yang telah benar-benar dikonfirmasi. Dan kini kita mengenal adanya asteroid yatim.

"Singgahnya asteroid yatim ke dalam tata surya kita membuka jendela peluang baru untuk mengeksplorasi benda-benda langit tetangga tata surya kita. Namun di sisi lain, juga membuka peluang resiko baru terhadap tata surya kita pada umumnya dan Bumi pada khususnya. Sebab  tumbukan benda langit yang berpotensi memusnahkan kehidupan, tak hanya asteroid dan komet penduduk tata surya saja yang perlu dipertimbangkan. Namun juga asteroid dan komet yatim, yang perilakunya jauh lebih sulit diprediksi," urai Ma'rufin.

Text Widget

Sample text

Ads 468x60px

Labels

Followers

Featured Posts

Find Us On Facebook

Semoga

Featured Video

Sponsor

Follow us

Video Of Day

Flickr Images

Popular posts

POPULAR POSTS