Showing posts with label Penemu. Show all posts
Showing posts with label Penemu. Show all posts

Friday, 27 October 2017

Apakah Albert Einstein Mengenai Agama dan Tuhan?

Albert Einstein adalah seorang ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistika, dan kosmologi. Pria kelahiran 14 Maret 1879 ini dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotolistrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis".
Dalam bidang ilmu pengetahuan sosok Albert Einstein sudah tidak dapat diragukan lagi kemampuannya, namun bagaimana pula pendpatnya mengenai kebradaan agama dan Tuhan ?? Berikut penjelasannya..

“Sains tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa sains adalah buta.” Begitu ujar Albert Einstein, dan kutipannya yang terkenal yang telah menjadi ajang perdebatan tiada akhir antara orang beriman dan tidak beriman yang ingin mengklaim ilmuwan terbesar abad ke-20 berada di pihak mereka.
Sebuah surat yang kurang dikenal yang ditulis olehnya, mungkin bisa membantu menyelesaikan perdebatan ini – atau paling tidak menambah panjang kontroversi tentang pendapat atau pandangannya mengenai agama.
Menjelang pelelangan surat tersebut minggu ini di London setelah selama 50 tahun menjadi koleksi pribadi, dokumen ini tidak menyisakan keraguan bahwa ahli fisika teoritik ini bukanlah seorang pendukung kepercayaan agama, yang dinilainya sebagai “tahyul kanak-kanak” .
Di dalam surat itu, ia menyatakan bahwa: “Kata tuhan bagiku tidak berarti apa-apa selain ekpresi dan produk dari kelemahan manusia, dan Alkitab sebagai sekumpulan tulisan berharga, namun tetap saja primitif dan kekanak-kanakan. Tidak ada interpretasi secanggih apa pun dapat mengubah ini.
Einstein, yang adalah seorang Yahudi dan yang juga menolak menjadi Presiden Israel yang kedua, dan juga menolak ide bahwa orang Israel adalah bangsa Tuhan yang terpilih.”
Bagiku agama Yahudi seperti halnya agama yang lain adalah perwujudan dari tahyul yang kekanak-kanakan. Dan orang Yahudi dengan bangga kuakui sebagai bagian dariku beserta dengan mentalitasnya yang kuakui dekat denganku tidak membedakanku dari orang-orang lain. Sejauh pengalamanku, mereka tidak lebih baik dari bangsa-bangga lain, meskipun mereka terlindungi dari kanker terburuk karena mereka tidak berkuasa. Selain itu aku tidak bisa melihat apa yang “terpilih” dari mereka.
Surat ini akan dilelang di Balai Pelelangan Bloomsbury pada Kamis Festival Mei dan diharapkan mencapai harga £8000. Tulisan tangan tersebut, dalam bahasa Jerman, tidak terinci dalam sumber akademik paling otoritatif tentang masalah ini, yaitu buku tulisan Max Jammer, Einstein and Religion.
Seorang ilmuwan terkemuka Inggris, John Brooke dari Universitas Oxford, mengaku ia belum pernah mendengar tentang hal ini.
Einstein paling dikenal melalui teori relativitasnya dan persamaan E=mc2 yang menggambarkan ekuivalensi antara massa dan energi, namun pandangannya tentang agama telah banyak mengundang tanda tanya.
Orangtuanya bukanlah penganut agama taat namun ia sekolah di sekolah dasar Katolik dan pada saat yang sama diajar secara privat tentang agama Yahudi. Ini mengacu pada masa yang kemudian dinamakannya “surga agama anak-anak”, di saat ia mematuhi kewajiban agama seperti tidak makan babi. Ini tidak berlangsung lama dan pada usia 12 tahun ia mulai mempertanyakan keabsahan cerita-cerita di dalam Alkitab.”
Konsekuensinya adalah perasaan bebas yang fanatik secara positif disertai perasaan bahwa masa mudanya telah ditipu oleh negara melalui kebohongan; sungguh perasaan yang mengejutkan, ” tulisannya.
Dalam tahun-tahun terakhirnya ia mengaju pada “perasaan religius kosmik” yang meresapi dan menjaga karya-karyanya. Pada tahun 1954, setahun sebelum kematiannya, ia mengatakan tentang ingin “merasakan alam semesta seperti sebuah kesatuan kosmik.” Ia juga suka menggunakan istilah religius, seperti pada tahun 1926 mengatakan bahwa “Ia [Tuhan] tidak bermain dadu” ketika mengacu pada ketidakpastian yang dihasilkan oleh teori kuantum.
Posisinya terhadap Tuhan telah sering disalahpahami oleh orang dari kedua belah pihak ateism/agamis namun ia selalu menolak untuk digolong-golongkan.”
Seperti para ilmuwan besar lainnya ia tidak bisa dikotak-kotakkan seperti yang diinginkan orang dalam polemik,” kata Brooke. “Jelas misalnya di mana ia memberikan penghormatan kepada nilai-nilai agama yang terdapat di dalam tradisi Yahudi dan Kristen… tetapi apa yang ia maksud dengan agama adalah sesuatu yang lebih mendalam daripada apa yang biasnya dimaksud dalam diskusi biasa.
Meskipun penolakannya mutlak terhadap agama konvensional, Brooke mengatakan bahwa Einstein sempat marah sewaktu pendangannya dipakai para ateis fundamentalis. Ia marah oleh ketinggihatian mereka dan pernah menulis seperti ini, “Misteri abadi dari dunia ini adalah kesukarannya untuk dipahami.”

Monday, 17 July 2017

Tahukah Anda Asal Muasal & Penemu Ponsel (HP)



Telefon seluler atau yang seringkali juga disebut sebagai ponsel sudah sejak lama menemani hari-hari para penggunanya untuk memenuhi kebutuhan berkomunikasi. Namun, tahukah Anda bagaimana asal usul dan siapa penemu ponsel tersebut?

Adalah Martin Cooper , seorang karyawan Motorola yang berhasil mengembangkan perangkat ponsel pada 3 April 1973. Bersamaan dengan mimpinya yang ingin menghadirkan sebuah alat komunikasi berukuran kecil dan mudah dibawa ke mana saja, Cooper bersama timnya menghadapi tantangan bagaimana dapat memasukkan semua material elektronik ke dalam alat yang berukuran kecil tersebut. Namun akhirnya, mimpi itu menjadi kenyataan dengan terciptanya sebuah ponsel dengan bobot seberat dua kilogram. Di mana, Motorola DynaTAC menjadi tonggak kelahiran ponsel dalam sejarah dunia.

DynaTAC sendiri diketahui memiliki ukuran 9 inci yang terdiri dari 30 papan sirkuit dan dapat melakukan panggilan kurang dari 30 menit dengan melakukan pengisian daya 10 jam. Agar dapat diproduksi, Motorola kala itu harus merogoh kocek hingga USD1 juta.

“Model ponsel pertama kala itu berbobot lebih dari satu kilogram. Di mana, Anda hanya dapat melakukan panggilan telefon selama 20 menit sebelum baterai habis. Oh, satu lagi Anda juga tidak dapat memegang ponsel itu dalam waktu yang lama,” ujar Cooper dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari The Telegraph.

Dilansir dari berbagai sumber, Martin Cooper memasuki dunia kerja untuk kali pertamanya dengan memasuki jajaran Reserve Officer Training Corps dalam Angkatan Laut (AL) di Amerika Serikat (AS). Pria yang mengantongi gelar sarjana di bidang Electrical Engineering pada 1950 ini bertugas di sebuah kapal perusak AL AS selama Perang Korea berlangsung.

Tak lama setelah perang usai, Cooper banting setir ke Teletype, sebuah anak perusahaan dari Western Electric. Di sinilah, ia mulai menyelami seluk beluk dunia telekomunikasi.

Akan tetapi, ia kemudian pindah ke Motorola pada 1954. Dengan gigih sembari bekerja di sana, Cooper meneruskan studi ke jenjang S-2 di malam harinya. Akhirnya, lelaki yang lahir pada 28 Desember 1958 di Chicago, Illinois, AS ini berhasil menyabet gelar Magister dalam bidang rekayasa elektronika dari Illinois Institute of Technology pada 1957.

Berbekal ilmu pengetahuan yang mumpuni, ia pun secara perlahan mulai mengubah lembaran teknologi informasi yang sebelumnya terbatas untuk digunkan dalam satu bangunan tunggal menjadi semakin luas. Di mana, Cooper berperan dalam membantu memperbaiki kecacatan dalam kristal Motorola yang dibuat untuk radio pada 1960 silam.

Di tahun yang sama, John F. Mitchell yang menjabat sebagai kepala insinyur proyek telekomunikasi portable Motorola memberinya tanggung jawab untuk ditugaskan di divisi telefon mobil (Carphone). Alasannya Mitchell dan Cooper kala itu membayangkan sebuah perangkat komunikasi yang tidak hanya terpaku di dalam mobil saja, tetapi dapat dibawa kemana saja dalam ukuran kecil.

Setelah membutuhkan 90 hari pengerjaan, Cooper dan timnya serta Mitchell akhirnya mematenkan penemuan “Radio Telephone System” pada 17 Oktober 1973 dengan nomor paten 3906166 yang kemudian disetujui pada September 1975 atas nama mereka.

Cooper menjadi orang pertama yang berhasil melakukan penggilan telefon melalui ponsel. Tak ingin melewatkan peristiwa bersejarah ini, para wartawan dan banyak orang lalu lalang di jalanan kota New York, AS menyaksikan panggilan pertamanya tersebut yang ditujukan kepada Dr. Joel S. Engel, kepala riset Bell Labs.

“Joel, aku menelefonmu dari telefon seluler yang ‘sesungguhnya’. Telefon genggam yang bisa dibawa kemana saja,” begitu bunyi kalimat pertama yang Cooper ucapkan di ujung telefon.

Rupanya, panggilan pertama ini menandakan awal mulanya perkembangan fundamental dunia teknologi. Era di mana memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi langsung dengan orang lain kapan pun dan di mana pun ia berada.

Text Widget

Sample text

Ads 468x60px

Labels

Followers

Featured Posts

Find Us On Facebook

Semoga

Featured Video

Sponsor

Follow us

Video Of Day

Flickr Images

Popular posts

POPULAR POSTS