Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Saturday, 3 September 2016

KISAH Malang, Mantan Jenderal Bintang 3 yang Kini Menjadi Petani,, Ternyata ini alasanya"" Baca selengkap Nya!!


Masihlah ingat dėngan sosok bėkas Kėpala Tubuh Rėsėrsė sėrta Kriminil (Kabarėskrim) Komisaris Jėndėral (Purnawirawan) Polisi Susno Duadji? Nama bėkas pėrwira tinggi kėpolisian itu di kėnal akibat pėrkataan cicak vėrsi buaya waktu bėrsitėgang dėngan Komisi Pėmbėrantasan Korupsi (KPK).

Tidak cuma itu, Susno juga jadi pesakitan akibat dituduh menggelapkan dana pengamanan Penentuan Gubernur Jawa Barat 2008 serta masalah korupsi PT Salmah Arowana Lestari lantas. Dikarenakan masalah itu, dia dijebloskan ke penjara sepanjang 3, 5 th.. Ia pernah dijemput paksa oleh Kejaksaan Agung serta dimasukkan ke Instansi Permasyarakatan Cibinong pada Mei 2013 lantas.

Lantas, bagaimana keadaannya saat ini?

Sesudah lama kasusnya berlalu, saat ini Susno pilih pulang ke tanah kelahirannya di Pagaralam, Sumatera Selatan. Untuk isi saat luangnya, Susno pilih bertani dengan mengerjakan tempat punya ke-2 orangtuanya, seperti kebun, sawah, pekarangan serta kolam ikan.

" Sawah ini yaitu warisan orang-tua saya yang juga petani, luasnya tak seberapa. Saat ini saya garap sendiri, benaran loh! " catat Susno melalui account Facebook kepunyaannya, Selasa (24/5).

Melalui profesinya sekarang ini, Susno mengakui lebih mengerti kesusahan yang dihadapi beberapa petani, mulai harga gabah waktu musim panen yg tidak sepadan dengan biaya produksi, seperti biaya garap, pupuk, obat-obatan, serta benih.

Saturday, 23 April 2016

Terlindas Truk, Bambang Pamungkas Tewas

 
Kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korbannya meninggal dunia kembali terjadi di jalur pantura Kota Pekalongan, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, depan asrama Brimob, Kamis (14/4) siang. Kali ini, korbannya adalah seorang pengendara sepeda motor bernama Bambang Pamungkas (27), warga Lamper Tengah, Semarang.

BambangKorban meninggal di tempat kejadian, setelah motor yang dikendarainya diduga menabrak bagian belakang mobil angkot, kemudian korban terjatuh dan terlindas truk yang sedang melintas di lokasi.

Informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Ketika itu, korban yang sedang mengendarai sepeda motor Honda Revo bernomor polisi H-5963-DD melaju dari arah timur (Semarang). Sesampainya di lokasi, ada sebuah mobil angkot jurusan Pekalongan-Kedungwuni-Kajen dari arah timur yang sedang berhenti di kiri jalan.

Diduga, korban hendak menghindari angkot tersebut. Naas, motor korban menabrak lampu sein sebelah kanan belakang dari angkot itu. Korban berikut sepeda motornya terpelanting ke arah kanan depan. Bersamaan dengan itu, ada sebuah truk pengangkut papan cor bernopol K-1890-BC sedang melaju searah, dari timur ke barat.

Tubuh korban yang sudah terjatuh ke aspal pun langsung terlindas roda belakang sebelah kiri dari truk yang dikemudikan Ahmad Choirudin (30), warga Jepara. Korban pun menderita luka parah pada pundak kanan dan perut, dan meninggal di lokasi kejadian.

Anggota Satlantas Polres Pekalongan Kota yang tiba di lokasi segera mengevakuasi jasad korban ke kamar mayat RSUD Bendan. Sedangkan sopir angkot dan sopir truk berikut kernetnya serta kendaraan yang terlibat dibawa ke Unit Lakalantas Polres Pekalongan Kota guna pemeriksaan lebih lanjut.

Sopir angkot, Dulatif (52), warga Ambokembang, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, mengaku saat kejadian dirinya tak tahu persis bagaimana korban bisa terjatuh dan terlindas truk. “Waktu itu saya berhenti di situ sudah sekitar lima menitan, saya masih mengurusi penumpang yang turun dan mau bayar. Tiba-tiba ada suara duarr di belakang. Kata penumpang saya, ada orang naik motor yang ditabrak truk kemudian terlempar dan mengenai kendaraan saya,” ujarnya.

Sementara, sopir truk, Ahmad Choirudin, mengaku tak tahu kalau truknya melindas korban. Waktu itu, dia tidak melihat ada kejadian tersebut. Dia baru tahu ada pengendara motor yang mengalami kecelakaan setelah dirinya dihentikan oleh seorang pengemudi mobil yang melintas searah dengannya.

Kasatlantas Polres Pekalongan Kota AKP Alan Haikal, melalui Kanit Lakalantas Ipda Darwoto, menjelaskan berdasar pemeriksaan saksi, insiden maut itu diduga berawal ketika pengendara sepeda motor melaju dari arah timur ke barat dengan kecepatan sekitar 60 km/jam.

“Sesampainya di TKP ada angkot yang berhenti menurunkan penumpang. Karena mungkin si pengendara motor kaget ada mobil yang berhenti di depannya, dia kemudian menabrak bagian belakang sebelah kanan dari angkot tersebut. Korban lalu terjatuh. Posisi jatuhnya korban itu mungkin terlalu dekat dengan truk yang saat itu berjalan searah dari timur ke barat. Akhirnya korban terlindas ban truk bagian kiri belakang, dan korban meninggal di lokasi kejadian,” terangnya.

Friday, 1 April 2016

KELUARGAKU DULU CINA KAFIR, SEPERTI KAU SERING TERIAKKAN..!


Tak ada yang bisa memilih, kita akan lahir di rahim siapa, berkulit apa, dan dimana. Saya, 7 bersaudara:

6 Muslim, 1 Nasrani.

5 orang menikah dengan ‘pribumi’.

Ayah masuk Islam di usia 73 tahun, setahun sebelum meninggal.

Ibu masuk Islam tahun lalu, di usia 79 tahun.

Ayah dan Ibu suku Tionghoa atau Anda sering menyebut dengan ‘Cina’.

Saya dan keluarga tak pernah teriak, “Si Kafir itu…” kepada siapapun. Kenapa?

Mau nyimak cerita Ayah saya?

Ayah saya adalah sosok nasionalis dan idealis tulen yang saya kenal. Cita-citanya menjadi ABRI tak terpenuhi, karena orang tua tak mengijinkan. Kakak pertama saya melanjutkan cita-cita itu sebagai ABRI. Kakak ketiga gagal menjadi ABRI, karena mata sedikit minus. Jika ditanya, “Papah gak pengin jalan-jalan keluar negeri?” Jawabnya, “Ngapain? Indonesia aja bagus, gak habis keliling Indonesia”.

18 tahun kerja di bank swasta, dengan prestasi terakhir menaikkan revenue perusahaan 20 kali lipat dalam 5 tahun menjabat, ‘dipaksa’ mengundurkan diri karena membela seorang karyawan baru ‘pribumi’, yang akan digeser oleh titipan direksi (tionghoa) yang rasialis.

Kemudian beliau melanjutkan kerja di usia 50 an, sebagai manajer keuangan di suatu perkebunan di Lampung. Percakapan yang paling saya ingat saat berkunjung kesana, “Ya’ (panggilan saya), coba lihat, orang-orang (buruh) itu dibayar dibawah angka kebutuhannya (UMR). Kalau mereka punya anak 3 atau lebih, gak akan cukup untuk hidup, maka mereka akan ‘maling’. Suatu saat, kalau kamu jadi bos, jangan pernah bayar karyawanmu dibawah angka kebutuhannya.”

5 tahun bekerja sebagai manajer keuangan, membuat ayah saya dikeluarkan, karena membongkar sindikat koruptor yang melibatkan adik pemilik perusahaan. Saat malam terakhir di Lampung, saya mendampingi dan mendengar ta’mir (pengurus) masjid setempat berkata, “Kami sangat kehilangan Pak Untung (ayah saya). Selama Pak Untung disini, ibadah kami, Bapak permudah. Pak Untung sudah seperti orang tua kami.”, air mata saya pun berlinang. Saat itu ayah saya belum memiliki agama, masih Kong Hu Cu (tradisi).

Di usia 55 tahun lebih, ayah melanjutkan bekerja di Purbalingga. Memilih tinggal di rumah penduduk dan mengembalikan fasilitas mobil sedan. Saya pun bertanya, “Kenapa papah balikin mobil itu? Kan bisa dipakai buat transportasi?”. Beliau menjawab, “Gak ahh, malu. Lha wong mereka (buruh) masih dibayar dibawah UMR, koq papah orang baru, udah pakai mobil mewah. Gimana omongan papah akan didengar mereka?”.

Akankah Anda mengatakan “Cina Kafir” kepada ayah saya?

Sekarang kisah saya..

Di usia 7 tahun (1980), sejak pindah ke rumah yang ketiga, kami tinggal di lokasi yang berdekatan dengan kampung di kota Semarang. Sungguh kaget, saat keluar rumah, anak kampung setempat berteriak, “Cino..!!”, dan langsung mengejar kemudian memukuli saya bertubi-tubi. Bosan melarikan diri terus, saya mulai melawan. Mau gak mau belajar berkelahi. Saat SD, kami sekeluarga disekolahkan di SD Katholik, alasan ayah saya, karena disiplinnya bagus.

Namun ayah saya ingin anak-anaknya berbaur, maka saat SMP, kami semua masuk ke SMP negeri, dimana saat itu hanya 2 orang ‘keturunan’ satu angkatan. Kami tak pernah merasa sebagai seorang ‘keturunan’. Ayah kami mendidik kami anti rasialis. Hal itu dibuktikan, ayah saya mengasuh seorang suku Bali, bernama I Gusti Made Gede, kuliah dan tinggal bersama kami selama 8 tahun.

Sungguh kaget, saat kawan-kawan di SMP berteriak, “Cino..!”. Dan saya pun balas berteriak, “Cino matamuuu..!”. Perkelahian pun sering terjadi.

Sejarah masuk Islam

Karena di sekolah negeri, pelajaran ‘default’ agama adalah Islam, kakak pertama saya mempelajari dan tertarik untuk memeluk Islam saat kelas 2 SMP. Kami, adiknya, satu-persatu masuk Islam saat masuk SMP, kecuali kakak perempuan saya. Tentu saja ayah dan ibu saya belum Islam saat itu.

Lulus kuliah, saya merantau ke Batam dan berjumpa dengan istri saya, yang saat itu beragama nasrani. Kenapa istri saya mau mengikuti saya masuk Islam? Inilah perkataannya, “Aku dulu (saat kuliah di Jakarta) sama sekali antipati dengan orang Islam, karena orang-orang Islam yang kukenal, kasar dan rasialis. Waktu ketemu kamu dan kenal kawan-kawanmu (yang muslim), baru aku melihat bahwa Islam itu damai”.

Kakak kami tertua tak pernah meminta kami mengikutinya masuk Islam. Saya pun tertarik masuk Islam di usia 11 tahun, saat SD, karena melihat kakak-kakak saya sholat. Begitu juga, ayah dan ibu saya, tak ada keterpaksaan masuk Islam. Saya meyakini, agama itu adalah akhlaq yang harus ditunjukkan, bukan dalil yang digemborkan. Seandainya, ayah saya mencalonkan menjadi gubernur, saat sebelum masuk Islam, maka saya akan tetap memilih beliau, karena saya tahu, beliau adalah sosok pemimpin yang bijak.

Anda mungkin sudah menebak arah saya kemana. Ya, benar dan mungkin salah. Saya tak memihak Ahok, karena saya tak mengenal beliau dan saya tahu politik terlalu rumit untuk dipahami. Jika pun saya ber KTP Jakarta, maka saya akan memilih Bang Sandiaga Uno, karena beliau adalah mentor saya dan saya ‘lebih’ mengenal beliau. Tidak ada jaminan akan lebih baik dari Ahok.

Poin saya adalah..

Saya pernah kafir dan saya tak suka disebut kafir, juga Cina. Ayah, ibu, kakak, istri saya pernah kafir, dan mereka tak suka disebut kafir, juga Cina. Maka saya tak akan menggunakan kata-kata itu untuk Ahok atau siapapun.

Memaki dan menghujat tak membuat Islam lebih tinggi, justru Anda telah merendahkan Islam dan memecah belah bangsa ini. Kalau Anda yakin Islam “rahmatan lil ‘alamiin”, tunjukkan saja dengan akhlaq, bukan dengan beribu dalil. Hewan dan tumbuhan saja harus kita sayangi, apalagi manusia. Kalau Anda yakin (dan saya yakin), masih banyak pemimpin muslim yang pantas, tunjukkan saja siapa mereka dan apa prestasinya untuk umat.

Bagi Anda suku Tionghoa..

Kita sudah belajar pahitnya jaman rasialis. Jangan Anda mempertahankan rasialis Anda, dengan memilih Ahok karena suku atau agama. Pilihlah pemimpin yang adil, siapapun itu. Terbukti yang membebaskan kita dari rasialisme bukanlah Soeharto, namun seorang Kyai bernama Gusdur.

Text Widget

Sample text

Ads 468x60px

Labels

Followers

Featured Posts

Find Us On Facebook

Semoga

Featured Video

Sponsor

Follow us

Video Of Day

Flickr Images

Popular posts

POPULAR POSTS