Showing posts with label Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Teknologi. Show all posts

Tuesday, 18 July 2017

Mengapa Aplikasi "TELEGRAM" Disukai Teroris?


 “Privasi pada akhirnya lebih penting ketimbang ketakutan kita akan hal buruk yang bisa terjadi, seperti terorisme,” begitu kata Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO layanan pesan Instan Telegram, ketika berbicara dalam acara TechCrunch Disrupt, September 2015 lalu.

Dia menanggapi pertanyaan dari audiens, soal teroris yang gemar memakai Telegram untuk berkomunikasi dan mengoordinir aksi teror lewat aplikasi pesan instan tersebut. Telegram dipandang “aman” lantaran obrolan para penggunanya tak bisa disadap.

Durov sendiri ketika itu sudah tahu bahwa ada aktivitas grup teroris negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Telegram. Tapi dia bersikeras menjunjung tinggi faktor keamanan privasi yang memang sudah lekat dan menjadi ciri khas Telegram semenjak dirilis empat tahun lalu.

“Kami tak harus merasa bersalah. Kami melakukan hal yang benar, yakni melindungi privasi pengguna,” imbuh Durov.


Entah ada kaitannya atau tidak, hanya dalam waktu sebulan setelah Durov menyampaikan statement, pada Oktober 2015, jumlah follower channel Telegram yang dioperasikan oleh ISIS tercatat naik dua kali lipat menjadi 9.000 pengguna.

Layanan chatting ini kemudian berulang kali dipakai sebagai medium komunikasi dan koordinasi para pelaku terorisme dalam melancarkan aksinya di berbagai belahan dunia.

Telegram, antara lain, digunakan untuk berkomunikasi oleh pelaku serangan di Paris pada 2015, serangan malam tahun baru 2017 di Turki, dan serangan di St. Petersburg pada April 2017.

Di Indonesia, sejumlah tersangka terorisme yang ditangkap pada Desember 2016 mengaku belajar membuat bom dengan mengikuti arahan lewat Telegram.

Telegram dan Teroris

Sebuah studi yang dirilis beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa Telegram menjadi platform komunikasi pilihan untuk para pelaku terorisme, seperti grup ISIS dan Al-Qaeda. Tetapi ada apa di balik kesukaan mereka terhadap Telegram?

Semenjak awal, Layanan chatting tersebut diketahui selalu mengedepankan diri sebagai platform messaging yang aman dari intipan pihak lain. Fiturnya dalam hal ini termasuk enkripsi end-to-end yang mencegah pesan dicegat dan dibaca, kecuali oleh pengirim dan penerima.

Keunikan Telegram dalam hal privasi dan sekuriti membuatnya berhasil merengkuh hingga 100 juta pengguna pada 2016. Namun, Jade Parker, peneliti senior dari grup riset TAPSTRI yang berfokus pada penggunaan internet oleh teroris, mengungkapkan bahwa enkripsi penjamin kerahasiaan bukanlah satu-satunya faktor yang menarik teroris ke platform Telegram.

Enkripsi telah ikut diterapkan penyedia layanan sejenis seperti WhatsApp, namun Telegram masih berada selangkah di depan karena menyediakan berbagai fasilitas lain untuk memudahkan komunikasi, baik yang bersifat rahasia ataupun terbuka, dari individu ke individu ataupun menarget kalangan yang lebih luas.

Channels di Telegram misalnya, bersifat terbuka untuk publik dan bebas diikuti oleh pengguna lain (follower). Karena itu pula, channels sering digunakan oleh teroris sebagai sarana untuk menyebar propaganda, dengan cara broadcast konten. Ada juga groups, private message, dan Secret Chat.

Fitur yang disebut terakhir ini terbilang istimewa karena menerapkan enkripsi client-to-client. Semua pesan yang terkirim dienkripsi dengan protokol MTProto.

Berbeda dari pesan biasa di Telegram yang bisa diakses dari berbagai perangkat karena berbasis cloud, pesan Secret Chat hanya bisa diakses melalui dua perangkat, yakni perangkat pengirim yang menginisiasi percakapan dan perangkat penerima.

Isi percakapan bisa dihapus kapan pun, atau diatur agar terhapus secara otomatis.

Kombinasi beberapa fasilitas berbeda ini, menurut Parker, memudahkan grup teroris seperti ISIS dalam memakai Telegram sebagai “pusat komando dan kendali”.

Seorang teroris, misalnya, bisa memperoleh video sebuah serangan teror lewat Secret Chat, lalu menyebarkannya ke follower di Channel sebagai propaganda.

“Mereka berkumpul di Telegram, lalu pergi ke platform lain yang berbeda-beda. Informasinya dimulai di Telegram, lalu menyebar ke Twitter dan Facebook,” ujar Parker, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Vox, Sabtu (15/7/2017).

Gampang masuk, susah keluar

Meski menerapkan keamanan ketat dalam hal privasi, bergabung dengan Telegram relatif gampang. Pengguna cukup menyediakan nomor ponsel untuk menerima kode akses, yang kemudian dipakai untuk membuka akun

Founder Telegram Pavel Durov (Techcrunch)

Pakar kontra terorisme, Ahmet S. Yayla dari George Mason University menyebutkan bahwa teroris biasanya memakai satu nomor telepon untuk aktivasi, tapi justru memakai nomor lain ketika menggunakan Telegram

“Kartu SIM yang Anda pakai untuk membuka akun Telegram tak harus sama dengan kartu SIM yang Anda pakai di telepon untuk mengakses aplikasi,” ujar Yayla.

Dengan demikian, bukan hanya teroris jadi lebih sulit dilacak oleh pihak kepolisian, tetapi mereka juga bisa dengan mudah membuat akun baru, begitu yang lama terendus pihak berwajib.

Selain gampang masuk, teroris pun sulit dikeluarkan dari Telegram.

Menurut Todd Helmus, pakar terorisme dan media sosial dari RAND Corporation, dua tahun lalu, platform medsos favorit ISIS bukanlah Telegram, melainkan Twitter. Namun kemudian Twitter bersama platform mainstream lain seperti Facebook dan Instagram berupaya memburu dan menutup akun-akun teroris di jejaring masing-masing.

Twitter misalnya, pada Maret lalu mengumumkan telah menutup 636.248 akun yang terindikasi mempromosikan kegiatan teror sejak 2015. Teroris pun menjadi lebih sulit bergerilya di jejaring-jejaring sosial itu.

Lalu mereka beralih ke Telegram. Sejak 2015, sudah terjadi eksodus teroris yang berbondong-bondong pindah ke layanan tersebut lantaran tergoda dengan privasi tingkat tinggi yang ditawarkan.

“Kami melihat tren yang jelas dari pertumbuhan angka pemakaian Telegram oleh hampir semua grup teror di seluruh dunia,” ujar Gabriel Weimann, prosesor dari University of Haifa yang mengamati ekstrimisme online.

Dihinggapi teroris, Telegram sendiri bukannya tinggal diam. Pengelola aplikasi pesan instan ini menutup 78 Channel yang terkait ISIS pada November 2015, menyusul serangan teror di Paris, Perancis. Lalu ada ratusan kanal lain yang diblokir setelahnya.

Namun upaya Telegram terkesan tidak maksimal dibandingkan jejaring-jejaring sosial di atas, karena Telegram sulit menyasar akun pribadi. Kalaupun akun seorang teroris ditutup, dia bisa dengan mudah membuat akun baru lantaran mudahnya prosedur membuka akun di Telegram.

Begitu pula dengan penutupan Channel terkait terorisme yang dinilai kurang efektif. “Anda bisa membuat Channel baru dalam 30 detik,” kata Yayla.

“Jadi sekarang, alih-alih hanya membuka tiga Channel, ISIS membuka 50 Channel untuk menyebarkan propaganda,” lanjut dia. “Menutup Channel tidak mengurangi aktivitas mereka.”.

Blokir bukan solusi?

Akhir pekan ini, Pemerintah Indonesia mengumumkan rencana memblokir Telegram dengan alasan menemukan konten bermuatan radikalisme dan terorisme.  Dirjen Aplikasi dan Informatika Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangarepan, menyoroti fitur Channel di aplikasi chatting itu.

“Pemblokiran ini harus dilakukan karena banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia,” tutur Semuel dalam keterangan tertulis yang dilayangkan kepada KompasTekno.

Rencana pemblokiran di Indonesia memancing reaksi dari Durov, sang CEO Telegram. Durov mengaku bingung karena sebelumnya tak pernah menerima permintaan atau keluhan apa pun dari pemerintah Indonesia.

Pada Juni lalu, Rusia, negara asal Durov, juga sempat mengancam bakal memblokir Telegram setelah mengetahui bahwa aplikasi chatting tersebut dipakai berkomunikasi oleh para pelaku pengeboman di kota Saint Petersburg, awal April 2017, yang menewaskan 15 orang korban.

Telegram kemudian mendaftarkan diri sebagai entitas penyedia informasi digital di Rusia, sesuai permintaan pemerintah kalau tidak mau diblokir di negeri tersebut. Kendati demikian, Durov menekankan pihaknya tetap tidak akan membocorkan informasi pribadi pengguna Telegram. Privasi tetap menjadi prioritas utama.

Seandainya diblokir, apakah penutupan Telegram bakal efektif mengurangi kegiatan terorisme? Durov mengatakan bahwa, kalaupun itu terjadi, para teroris cukup berganti platform untuk mengakali pemblokiran.

Parker mengutarakan pendapat senada. “Dengan menutup Telegram, cuma akan membuat ISIS berpindah ke platform lain,” katanya. Bahkan, dia mengatakan para pelaku terorisme telah mulai mencari alternatif lain karena Telegram belakangan banyak mendapat sorotan.

Mungkin memang bukan mediumnya yang menjadi masalah, karena toh ada banyak medium serupa. Yang lebih penting, bagaimana caranya mencegah medium apa pun disalahgunakan oleh sebagian pihak.

Monday, 17 July 2017

Tahukah Anda Asal Muasal & Penemu Ponsel (HP)



Telefon seluler atau yang seringkali juga disebut sebagai ponsel sudah sejak lama menemani hari-hari para penggunanya untuk memenuhi kebutuhan berkomunikasi. Namun, tahukah Anda bagaimana asal usul dan siapa penemu ponsel tersebut?

Adalah Martin Cooper , seorang karyawan Motorola yang berhasil mengembangkan perangkat ponsel pada 3 April 1973. Bersamaan dengan mimpinya yang ingin menghadirkan sebuah alat komunikasi berukuran kecil dan mudah dibawa ke mana saja, Cooper bersama timnya menghadapi tantangan bagaimana dapat memasukkan semua material elektronik ke dalam alat yang berukuran kecil tersebut. Namun akhirnya, mimpi itu menjadi kenyataan dengan terciptanya sebuah ponsel dengan bobot seberat dua kilogram. Di mana, Motorola DynaTAC menjadi tonggak kelahiran ponsel dalam sejarah dunia.

DynaTAC sendiri diketahui memiliki ukuran 9 inci yang terdiri dari 30 papan sirkuit dan dapat melakukan panggilan kurang dari 30 menit dengan melakukan pengisian daya 10 jam. Agar dapat diproduksi, Motorola kala itu harus merogoh kocek hingga USD1 juta.

“Model ponsel pertama kala itu berbobot lebih dari satu kilogram. Di mana, Anda hanya dapat melakukan panggilan telefon selama 20 menit sebelum baterai habis. Oh, satu lagi Anda juga tidak dapat memegang ponsel itu dalam waktu yang lama,” ujar Cooper dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari The Telegraph.

Dilansir dari berbagai sumber, Martin Cooper memasuki dunia kerja untuk kali pertamanya dengan memasuki jajaran Reserve Officer Training Corps dalam Angkatan Laut (AL) di Amerika Serikat (AS). Pria yang mengantongi gelar sarjana di bidang Electrical Engineering pada 1950 ini bertugas di sebuah kapal perusak AL AS selama Perang Korea berlangsung.

Tak lama setelah perang usai, Cooper banting setir ke Teletype, sebuah anak perusahaan dari Western Electric. Di sinilah, ia mulai menyelami seluk beluk dunia telekomunikasi.

Akan tetapi, ia kemudian pindah ke Motorola pada 1954. Dengan gigih sembari bekerja di sana, Cooper meneruskan studi ke jenjang S-2 di malam harinya. Akhirnya, lelaki yang lahir pada 28 Desember 1958 di Chicago, Illinois, AS ini berhasil menyabet gelar Magister dalam bidang rekayasa elektronika dari Illinois Institute of Technology pada 1957.

Berbekal ilmu pengetahuan yang mumpuni, ia pun secara perlahan mulai mengubah lembaran teknologi informasi yang sebelumnya terbatas untuk digunkan dalam satu bangunan tunggal menjadi semakin luas. Di mana, Cooper berperan dalam membantu memperbaiki kecacatan dalam kristal Motorola yang dibuat untuk radio pada 1960 silam.

Di tahun yang sama, John F. Mitchell yang menjabat sebagai kepala insinyur proyek telekomunikasi portable Motorola memberinya tanggung jawab untuk ditugaskan di divisi telefon mobil (Carphone). Alasannya Mitchell dan Cooper kala itu membayangkan sebuah perangkat komunikasi yang tidak hanya terpaku di dalam mobil saja, tetapi dapat dibawa kemana saja dalam ukuran kecil.

Setelah membutuhkan 90 hari pengerjaan, Cooper dan timnya serta Mitchell akhirnya mematenkan penemuan “Radio Telephone System” pada 17 Oktober 1973 dengan nomor paten 3906166 yang kemudian disetujui pada September 1975 atas nama mereka.

Cooper menjadi orang pertama yang berhasil melakukan penggilan telefon melalui ponsel. Tak ingin melewatkan peristiwa bersejarah ini, para wartawan dan banyak orang lalu lalang di jalanan kota New York, AS menyaksikan panggilan pertamanya tersebut yang ditujukan kepada Dr. Joel S. Engel, kepala riset Bell Labs.

“Joel, aku menelefonmu dari telefon seluler yang ‘sesungguhnya’. Telefon genggam yang bisa dibawa kemana saja,” begitu bunyi kalimat pertama yang Cooper ucapkan di ujung telefon.

Rupanya, panggilan pertama ini menandakan awal mulanya perkembangan fundamental dunia teknologi. Era di mana memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi langsung dengan orang lain kapan pun dan di mana pun ia berada.

Tuesday, 2 February 2016

Boros Karena Fitur Autoplay Video Instgram?? Ini Cara Mematikannya


Saat ini banyak sekali jejaring sosial yang menerapkan fitur autoplay video tanpa mengaharuskan pengguna menyetujuinya terlebih dahulu. Seperti yang terjadi pada aplikasi Instagram, aplikasi jejaring tersebut dilengkapi juga dengan fitur autoplay video dimana video secara otomatis langsung diputar tanpa harus menekan tombol play terlebih dahulu.

Bagi sebagian pengguna, hal ini sangat dirasakan tidak nyaman karena bisa menghabiskan kuota data secara signifikan. Ada juga yang beranggapan bahwa fitur ini hanya ditujukan untuk memperbanyak jumlah penayangan. Adanya fitur autoplay video secara otomatis sebnarnya cukup menghibur apabila video yang terputar memang video yang kita kehendaki, bukan semua video yang ada diputar secara otomatis.

Menanggapi keluhan tersebut, salah satu yang dapat dilakukan oleh pengembang aplikasi Instagram ini dalah dengan menyediakan cara untuk mematikan fitur autoplay ini. Sayangnya, Instagram tidak menyediakan fitur untuk mematikan autoplay video secara permanen. Dan hal yang bisa dilakukan pengguna Instagram adalah dengan memastikan bahwa video tidak dalam posisi loading ketika terkoneksi dengan paket data.

Dengan demikian, apa yang bisa dilakukan penggunanya adalah memastikan bahwa video tidak dalam posisi loading ketika Anda terkoneksi dengan paket data.Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mematikan fitur autoplay video pada Instagram untuk perangkat berbasis Android maupun iOS adalah sebagai berikut:

Buka aplikasi Instagram dan masuk ke halaman Profile dengan menekan ikon siluet orang.
Masuk ke Setting (pada ponsel Android tap ikon tiga titik vertikal di pojok kanan halaman Profile, sedangkan untuk iPhone tap ikon roda bergerigi).
Pada halaman Setting, geser ke bawah sampai menemukan opsi “Cellular Data Use”.
Pilih “Use Less Data” untuk menghentikan video pre-loading saat Anda sedang terkoneksi dengan paket data. Namun perlu diketahui saat koneksi jaringan menggunakan Wi-Fi, makan video masih akan terus dalam kondisi pre-loading.
Selain memperlambat pre-loading video, pengaturan ini juga berguna untuk menghentikan pre-loading foto saat pengguna sedang membuka Instagram. Hal ini sangat berguna bagi pengguna Instagram, terutama untuk menghindari pemakaian paket data yang berlebihan.

Text Widget

Sample text

Ads 468x60px

Labels

Followers

Featured Posts

Find Us On Facebook

Semoga

Featured Video

Sponsor

Follow us

Video Of Day

Flickr Images

Popular posts

POPULAR POSTS