Showing posts with label Trending. Show all posts
Showing posts with label Trending. Show all posts

Monday, 16 May 2016

GILA !! Menurut dokter kejiwaan, Cewek yang Hobi Selfi Bibir Monyong Berpotensi Punya Gangguan Jiwa


Perkembangan teknologi bukan hanya berimbas pada hadirnya sejumlah gadget canggih dan pesatnya akses informasi, tetapi juga berpengaruh pada gaya hidup penggunanya, salah satunya adalah perilaku selfie, yakni perilaku seseorang yang gemar mengabadikan dirinya sendiri.

Pose andalan saat melakukan selfie adalah ekspresi wajah bebek atau lebih dikenal dengan sebutan duck face, yakni memanyunkan bibir secara sensual dan menyipitkan mata, tujuannya sih supaya terlihat menggemaskan dan imut. Tetapi ternyata, di balik kebiasaan yang umumnya dilakukan oleh perempuan ini, terungkap temuan yang menyebutkan bahwa bisa jadi orang yang melakukannya terganggu secara mental.

Menurut sebuah penelitian psilkolgi yang dirilis di sebuah situs Antiduckface.com, orang yang mengambil fotonya sendiri dengan ekspresi wajah sengaja dibuat untuk mengecoh perhatian, seperti salah satunya adalah memanyunkan bibir, kemungkinan besar memiliki gangguan jiwa.

Komentar serupa juga dituturkan oleh Dr Pamela Rutledge, Director, Media Psychology Research Centre, seperti dikutip dari Mashable.com, “Berkaca dan memotret diri sendiri atau selfie adalah dua hal yang berbeda. Dengan mematut diri di depan kaca menimbulkan pergerakan yang nyata, sedangkan selfie lebih kepada imaji yang Anda ciptakan sendiri demi mendapatkan perhatian dari orang lain. Hal yang demikian menunjukkan seseorang yang kesepian, butuh pengakuan, selalu ingin menjadi pusat perhatian dan biasanya tidak terlalu pintar.”

Pose dengan ekspresi wajah bebek ini, menunjukkan rendahnya kepercayaan diri dengan wajah natural dan takut tidak terlihat menarik. Memang benar, pose duck face, dapat menyamarkan kekurangan wajah tapi bukan berarti Anda terlihat lebih memikat!

Bahkan kebiasaan berpose seperti wajah bebek, untuk kemudian diedit menggunakan filter yang biasanya langsung tersedia pada beberapa aplikasi media sosial, menurut Dr Pamela, merupakan pemicu terciptanya gaya hidup pencitraan, di mana sejumlah orang menciptakan tuntutan pada diri sendiri untuk mendapatkan penilaian terbaik dari publik terhadap mereka.

Bagi Anda yang gemar memotret diri sendiri dengan ekspresi bak wajah seekor bebek ini, tak perlu khawatir. Meski pun diklaim sebagai gangguan psikologis, tapi tidak memberikan dampak buruk pada diri Anda dan juga lingkungan sosial. Namun setidaknya pertimbangkanlah sebagai alarm untuk menguranginya, karena wajah yang tersenyum manis dan binar mata nan cerdas lebih sedap dipandang dibandingkan bibir yang dimonyongkan!

Friday, 1 April 2016

KELUARGAKU DULU CINA KAFIR, SEPERTI KAU SERING TERIAKKAN..!


Tak ada yang bisa memilih, kita akan lahir di rahim siapa, berkulit apa, dan dimana. Saya, 7 bersaudara:

6 Muslim, 1 Nasrani.

5 orang menikah dengan ‘pribumi’.

Ayah masuk Islam di usia 73 tahun, setahun sebelum meninggal.

Ibu masuk Islam tahun lalu, di usia 79 tahun.

Ayah dan Ibu suku Tionghoa atau Anda sering menyebut dengan ‘Cina’.

Saya dan keluarga tak pernah teriak, “Si Kafir itu…” kepada siapapun. Kenapa?

Mau nyimak cerita Ayah saya?

Ayah saya adalah sosok nasionalis dan idealis tulen yang saya kenal. Cita-citanya menjadi ABRI tak terpenuhi, karena orang tua tak mengijinkan. Kakak pertama saya melanjutkan cita-cita itu sebagai ABRI. Kakak ketiga gagal menjadi ABRI, karena mata sedikit minus. Jika ditanya, “Papah gak pengin jalan-jalan keluar negeri?” Jawabnya, “Ngapain? Indonesia aja bagus, gak habis keliling Indonesia”.

18 tahun kerja di bank swasta, dengan prestasi terakhir menaikkan revenue perusahaan 20 kali lipat dalam 5 tahun menjabat, ‘dipaksa’ mengundurkan diri karena membela seorang karyawan baru ‘pribumi’, yang akan digeser oleh titipan direksi (tionghoa) yang rasialis.

Kemudian beliau melanjutkan kerja di usia 50 an, sebagai manajer keuangan di suatu perkebunan di Lampung. Percakapan yang paling saya ingat saat berkunjung kesana, “Ya’ (panggilan saya), coba lihat, orang-orang (buruh) itu dibayar dibawah angka kebutuhannya (UMR). Kalau mereka punya anak 3 atau lebih, gak akan cukup untuk hidup, maka mereka akan ‘maling’. Suatu saat, kalau kamu jadi bos, jangan pernah bayar karyawanmu dibawah angka kebutuhannya.”

5 tahun bekerja sebagai manajer keuangan, membuat ayah saya dikeluarkan, karena membongkar sindikat koruptor yang melibatkan adik pemilik perusahaan. Saat malam terakhir di Lampung, saya mendampingi dan mendengar ta’mir (pengurus) masjid setempat berkata, “Kami sangat kehilangan Pak Untung (ayah saya). Selama Pak Untung disini, ibadah kami, Bapak permudah. Pak Untung sudah seperti orang tua kami.”, air mata saya pun berlinang. Saat itu ayah saya belum memiliki agama, masih Kong Hu Cu (tradisi).

Di usia 55 tahun lebih, ayah melanjutkan bekerja di Purbalingga. Memilih tinggal di rumah penduduk dan mengembalikan fasilitas mobil sedan. Saya pun bertanya, “Kenapa papah balikin mobil itu? Kan bisa dipakai buat transportasi?”. Beliau menjawab, “Gak ahh, malu. Lha wong mereka (buruh) masih dibayar dibawah UMR, koq papah orang baru, udah pakai mobil mewah. Gimana omongan papah akan didengar mereka?”.

Akankah Anda mengatakan “Cina Kafir” kepada ayah saya?

Sekarang kisah saya..

Di usia 7 tahun (1980), sejak pindah ke rumah yang ketiga, kami tinggal di lokasi yang berdekatan dengan kampung di kota Semarang. Sungguh kaget, saat keluar rumah, anak kampung setempat berteriak, “Cino..!!”, dan langsung mengejar kemudian memukuli saya bertubi-tubi. Bosan melarikan diri terus, saya mulai melawan. Mau gak mau belajar berkelahi. Saat SD, kami sekeluarga disekolahkan di SD Katholik, alasan ayah saya, karena disiplinnya bagus.

Namun ayah saya ingin anak-anaknya berbaur, maka saat SMP, kami semua masuk ke SMP negeri, dimana saat itu hanya 2 orang ‘keturunan’ satu angkatan. Kami tak pernah merasa sebagai seorang ‘keturunan’. Ayah kami mendidik kami anti rasialis. Hal itu dibuktikan, ayah saya mengasuh seorang suku Bali, bernama I Gusti Made Gede, kuliah dan tinggal bersama kami selama 8 tahun.

Sungguh kaget, saat kawan-kawan di SMP berteriak, “Cino..!”. Dan saya pun balas berteriak, “Cino matamuuu..!”. Perkelahian pun sering terjadi.

Sejarah masuk Islam

Karena di sekolah negeri, pelajaran ‘default’ agama adalah Islam, kakak pertama saya mempelajari dan tertarik untuk memeluk Islam saat kelas 2 SMP. Kami, adiknya, satu-persatu masuk Islam saat masuk SMP, kecuali kakak perempuan saya. Tentu saja ayah dan ibu saya belum Islam saat itu.

Lulus kuliah, saya merantau ke Batam dan berjumpa dengan istri saya, yang saat itu beragama nasrani. Kenapa istri saya mau mengikuti saya masuk Islam? Inilah perkataannya, “Aku dulu (saat kuliah di Jakarta) sama sekali antipati dengan orang Islam, karena orang-orang Islam yang kukenal, kasar dan rasialis. Waktu ketemu kamu dan kenal kawan-kawanmu (yang muslim), baru aku melihat bahwa Islam itu damai”.

Kakak kami tertua tak pernah meminta kami mengikutinya masuk Islam. Saya pun tertarik masuk Islam di usia 11 tahun, saat SD, karena melihat kakak-kakak saya sholat. Begitu juga, ayah dan ibu saya, tak ada keterpaksaan masuk Islam. Saya meyakini, agama itu adalah akhlaq yang harus ditunjukkan, bukan dalil yang digemborkan. Seandainya, ayah saya mencalonkan menjadi gubernur, saat sebelum masuk Islam, maka saya akan tetap memilih beliau, karena saya tahu, beliau adalah sosok pemimpin yang bijak.

Anda mungkin sudah menebak arah saya kemana. Ya, benar dan mungkin salah. Saya tak memihak Ahok, karena saya tak mengenal beliau dan saya tahu politik terlalu rumit untuk dipahami. Jika pun saya ber KTP Jakarta, maka saya akan memilih Bang Sandiaga Uno, karena beliau adalah mentor saya dan saya ‘lebih’ mengenal beliau. Tidak ada jaminan akan lebih baik dari Ahok.

Poin saya adalah..

Saya pernah kafir dan saya tak suka disebut kafir, juga Cina. Ayah, ibu, kakak, istri saya pernah kafir, dan mereka tak suka disebut kafir, juga Cina. Maka saya tak akan menggunakan kata-kata itu untuk Ahok atau siapapun.

Memaki dan menghujat tak membuat Islam lebih tinggi, justru Anda telah merendahkan Islam dan memecah belah bangsa ini. Kalau Anda yakin Islam “rahmatan lil ‘alamiin”, tunjukkan saja dengan akhlaq, bukan dengan beribu dalil. Hewan dan tumbuhan saja harus kita sayangi, apalagi manusia. Kalau Anda yakin (dan saya yakin), masih banyak pemimpin muslim yang pantas, tunjukkan saja siapa mereka dan apa prestasinya untuk umat.

Bagi Anda suku Tionghoa..

Kita sudah belajar pahitnya jaman rasialis. Jangan Anda mempertahankan rasialis Anda, dengan memilih Ahok karena suku atau agama. Pilihlah pemimpin yang adil, siapapun itu. Terbukti yang membebaskan kita dari rasialisme bukanlah Soeharto, namun seorang Kyai bernama Gusdur.

Wednesday, 30 March 2016

Gadis 18 Tahun Dinikahi Kakek 66 Tahun, Apa Alasannya?



Setiap pasangan yang sedang berpacaran, pasti menginginkan hubungannya diteruskan ke jenjang pernikahan. Hal ini sebagai komitmen dan tanda keseriusan, dari kedua pasangan yang sedang dilanda cinta.

Memilih pasangan untuk diajak menikah memang tidak boleh sembarangan. Kita harus memiliki kriteria yang sesuai dengan ajaran agama, apalagi jika Anda menginginkan rumah tangga yang dibina berumur panjang, bahkan hingga ajal menjemput.

Namun tidak sedikit mereka yang menikah memiliki perbedaan umur yang cukup jauh. Salah satunya gadis berumur 18 tahun ini, yang rela dinikahi seorang kakek yang sudah berumur 66 tahun. Lalu apa alasan sang gadis menerima pinangan kakek ini?

Gadis yang berasal dari Malaysia bernama Nur Nasirah Mohd Nazri mengakui, jika ia sangat mencintai pria tersebut.

"Meskipun usia kami jauh berbeda, namun saya menikah dengan dia karena cinta, bukan karena uang atau utang budi," ucap Nasirah yang kami kutip dari Utusan.com.

Ia menikahi pria bernama Ismail Lombok, yang sudah berumur 66 tahun, sebagai suaminya. Nasirah mengenal kakek ini sekitar dua tahun lalu. Ketika itu Ismail yang merupakan seorang pensiun, sering minum di warung ibunya, Salma Abdullah yang umurnnya pun masih lebih muda yaitu 42 tahun di Paka, sebuah kota pantai di Terengganu, Malaysia.

Nur mengakui jika ia mencintai Ismail karena sikapnya yang baik. Di saat itulah, ia merasa cintanya sudah melekat pada sang kakek delapan anak ini.

Setali dua uang, Ismail pun rupanya menaruh hati pada Nur. Meskipun jatuh cinta, awalnya Nur tidak memberi perlakuan spesial kepada sang pria. Bur melayani Ismail seperti pelanggan lainnya.

"Biarlah apa kata orang, saya menerima dia apa seadanya, dia begitu peduli dan menyayangi saya sepenuh hati. Setelah kami direstui keluarga, kami menikah dengan cara yang sah, ikut adat," kata Nur Nasirah.

Sebagai mahar, Ismail membawa uang sebesar RM7.000 atau sekitar Rp23,4 juta untuk meminangnya. Dan acara pernikahan berlangsng cukup ramai, pada tanggal 18 Maret lalu. Dan setelah mengunggah foto-fotonya ke sosial media, pasangan ini pun langsung menjadi viral.

Tuesday, 2 February 2016

Boros Karena Fitur Autoplay Video Instgram?? Ini Cara Mematikannya


Saat ini banyak sekali jejaring sosial yang menerapkan fitur autoplay video tanpa mengaharuskan pengguna menyetujuinya terlebih dahulu. Seperti yang terjadi pada aplikasi Instagram, aplikasi jejaring tersebut dilengkapi juga dengan fitur autoplay video dimana video secara otomatis langsung diputar tanpa harus menekan tombol play terlebih dahulu.

Bagi sebagian pengguna, hal ini sangat dirasakan tidak nyaman karena bisa menghabiskan kuota data secara signifikan. Ada juga yang beranggapan bahwa fitur ini hanya ditujukan untuk memperbanyak jumlah penayangan. Adanya fitur autoplay video secara otomatis sebnarnya cukup menghibur apabila video yang terputar memang video yang kita kehendaki, bukan semua video yang ada diputar secara otomatis.

Menanggapi keluhan tersebut, salah satu yang dapat dilakukan oleh pengembang aplikasi Instagram ini dalah dengan menyediakan cara untuk mematikan fitur autoplay ini. Sayangnya, Instagram tidak menyediakan fitur untuk mematikan autoplay video secara permanen. Dan hal yang bisa dilakukan pengguna Instagram adalah dengan memastikan bahwa video tidak dalam posisi loading ketika terkoneksi dengan paket data.

Dengan demikian, apa yang bisa dilakukan penggunanya adalah memastikan bahwa video tidak dalam posisi loading ketika Anda terkoneksi dengan paket data.Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mematikan fitur autoplay video pada Instagram untuk perangkat berbasis Android maupun iOS adalah sebagai berikut:

Buka aplikasi Instagram dan masuk ke halaman Profile dengan menekan ikon siluet orang.
Masuk ke Setting (pada ponsel Android tap ikon tiga titik vertikal di pojok kanan halaman Profile, sedangkan untuk iPhone tap ikon roda bergerigi).
Pada halaman Setting, geser ke bawah sampai menemukan opsi “Cellular Data Use”.
Pilih “Use Less Data” untuk menghentikan video pre-loading saat Anda sedang terkoneksi dengan paket data. Namun perlu diketahui saat koneksi jaringan menggunakan Wi-Fi, makan video masih akan terus dalam kondisi pre-loading.
Selain memperlambat pre-loading video, pengaturan ini juga berguna untuk menghentikan pre-loading foto saat pengguna sedang membuka Instagram. Hal ini sangat berguna bagi pengguna Instagram, terutama untuk menghindari pemakaian paket data yang berlebihan.

Tuesday, 26 January 2016

Fungsi Misterius Kantong Kecil di Celana Jin, ini jawabannya


Model standar celana jin punya 5 kantong. Dua di bagian belakang dan tiga lagi di depan. Namun, satu kantong pada bagian depan ini berukuran lebih kecil dan berada di atas saku sebelah kanan --yang ukurannya lebih besar.
Selama ini mungkin Anda bertanya, apa fungsi kantong kecil itu. Mengapa harus ada kantong itu? Untuk menyimpan koin, terlalu sempit. Apalagi untuk Ponsel, pasti tidak cukup. Lantas untuk apa? Sejumlah ahli jin dan tekstil mencari jawaban atas teka-teki itu.
Seorang pengguna forum, Renata Janoskova, coba menjawab dengan mengutip Levi Strauss, merek jin terkemuka dari Amerika Serikat. Menurut blog Levi Strauss, kantong kecil itu rupanya dibuat untuk menyimpan jam saku. Levi mendesain kantong ini untuk para cowboy menyimpan jam mereka.
“Ini kantong jam. Kembali pada tahun 1800-an, cowboy biasanya menggunakan jam pada rantai dan menyimpannya di rompi mereka. Untuk menjaga supaya tidak rusak, Levi memperkenalkan saku kecil ini di mana mereka dapat menyimpan jam mereka.”

Kenapa Dipertahankan?

Tapi saat ini jam yang dirantai itu sudah tidak dipakai, lalu kenapa saku itu masih dipertahankan? Mengenai pertanyaan itu, juga ada penjelasan. Levi Strauss menyatakan, kantong itu “disukai oleh pecinta jin”. Jadi meski fungsinya sudah memudar, kantong itu masih saja dipasang.
Namun, soal kantong kecil itu, ada versi lain menyebut bahwa kantong kecil itu didesain untuk para penambang di AS. Kantong tersebut dipakai untuk menyimpan butiran emas yang ditambang.

Monday, 25 January 2016

Mangga Ungu ini dari mana yah?


Aroma yang harum, bertekstur halus dengan tampilan warna merah keunguan yang cantik, membuat jenis mangga yang di hasilkan di Distrik Yujing, kota Tainan, Taiwan ini menjadi primadona dari dulu hingga sekarang. Bahkan pada tahun 2012, seperti dilansir dari Majalah Pesona Taiwan, Sabtu (23/1/2016), Kota Tainan menjadi kabupaten dengan produksi budidaya buah mangga terbesar dengan menghasilkan 17 ribu ton per tahun.

"Jumlah hasil panen dan harga jual mangga Irwin melebihi jenis buah mangga lainnya. Maka dari itu, Yujing disebut sebagai Kampung halaman mangga Irwin," jelas Ketua Unit Pemasaran Badan Pertanian Distrik Yjing, Kota Tainan, Zu Quan Zhe.
Bibit mangga Irwin dibawa pertama kali oleh para pakar pertanian Taiwan pada 1954 setelah melakukan kajian di Florida, Amerika Serikat.


 Awalnya para ahli mencoba menanamnya di 11 wilayah di Taiwan bagian tengah dan selatan, sebelum akhirnya menemukan sebuah tanah subur di Distrik Yujing.
Adalah Teng Han-zhi berusia 85 tahun, seorang pakar dalam bidang pertanian yang dengan gigih melakukan beberapa teknik penanaman mangga Irwin.
Setelah pada tahun pertama dan kedua gagal, di tahun ketiga Teng Han mencoba menanam lagi 100 pohon mangga Irwin di lahan pertaniannya. Hasilnya panen melipah dan mulai mendapatkan respon yang baik di pasaran dengan harga jual yang sangat tinggi.
Melihat keuntungan yang dihasilkan dari mangga ini, Perdana Menteri Chiang Ching-kuo pada 1973 menunjuk Yujing sebagai daerah khusus penanaman mangga Irwin. Dan agar mempermudah transportasi bagi para petani di wilayah tersebut, sang perdana menteri membuat jembatan Zhongzheng di Distrik Taipei.
Kini kota kecil Yujing dikenal sebagai 'Kota Mangga'. Bagi Anda yang ingin mencicipi keharuman, earna, dan rasa mangga Irwin yang manis dan harum dapat mengatur perjalanan ke Yujing pada bulan Juli hingga Agustus.

Text Widget

Sample text

Ads 468x60px

Labels

Followers

Featured Posts

Find Us On Facebook

Semoga

Featured Video

Sponsor

Follow us

Video Of Day

Flickr Images

Popular posts

POPULAR POSTS