Saturday, 14 July 2018

Ternyata BENDERA POLANDIA adalah bendera Merah Putih yang diusung MUHAMMAD ZOHRI di saat KEMENANGANNYA


Indonesia melalui atlet lari yang diwakili "Lalu Muhammad Zohri" berbangga di ajang kejuaraan dunia IAZZ World U20 di Finlandia, Kamis (12/7/2018). Pasalnya, Zohri berhasil meraih emas dalam ajang lomba lari 100 meter. Kemenangan Zohri pun mendapatkan sorotan dari pelatih di Universitas Virginia, Amerika Serikat. Pelatih dengan akun Twitter @mowad1010 itu mengatakan jika seharusnya ada seseorang yang segera memberinya bendera Polandia setelah ia dinyatakan menang, lalu membalik bendera tersebut.

Sepertinya brgkt sendiri, biaya sendiri, tidak ada yg menyangka bakal juara 1 emas ngalahin negara2 punya atlet pelari jamaica, usa, swedia, dll. sehingga tepuk tgn sendiri, selebrasi sendiri, tak ada yg kasih pelukan selamat, tak ada yg kasih bendera seperti komentatornya bilang mencari bendera (tidak ada seseorang pun yg kasih dia bendera), sepertinya ada bule yg kasih bendera Polandia jadi tinggal dibalik aja....ngeuneus, sedih, mengharukan... Bangga... Sejarah.. Pecahin rekor!!! 

Diliat dr foto pahlawan Zohri takut salah terbalik merah putihnya

Friday, 29 June 2018

Negara yang lolos 16 besar Piala Dunia 2018



Berikut adalah tim-tim yang lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2018:

Grup A
Juara: Uruguay
Runner-up: Rusia

Grup B
Juara: Spanyol
Runner-up: Portugal

Grup C
Juara: Prancis
Runner-up: Denmark

Grup D
Juara: Kroasia
Runner-up: Argentina

Grup E
Juara: Brasil
Runner-up: Swiss

Grup F
Juara: Swedia
Runner-up: Meksiko

Grup G
Juara: Belgia
Runner-up Inggris

Grup H
Juara: Kolombia
Runner-up: Jepang

Saturday, 2 June 2018

RAJA NAJASYI, dari Negeri Habasyah


Beliau bisa dikatakan tabi’in, namun boleh pula dikatakan se­bagai sahabat. Hubungannya dengan Rasulullah S.A.W ber­lang­sung melalui surat menyurat. Ketika beliau wafat, Nabi S.A.W melakukan shalat ghaib untuknya, shalat yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya.

Dialah Ashhamah bin Abjar yang dikenal dengan sebutan An-Najasyi. Marilah pada kesempatan yang barakah ini sejenak kita te­lusuri kehidupan seorang tokoh besar kaum muslimin ini. Selamat membaca….. 🙂

Ayah Ashhamah adalah raja negeri Habasyah dan tidak memiliki anak melainkan beliau. Kondisi ini dipandang kurang baik untuk masa depan negeri itu. Sebagian tokoh Habasyah saling berbisik: “Raja kita hanya memiliki seorang putera. Dia hanya menyusahkan. Dia akan mewarisi tahta bila raja wafat dan mengantar kita ke arah kebi­na­saan. Lebih baik kita bunuh sang raja dan kita angkat saudaranya men­jadi raja baru. Dia memiliki duabelas putera yang membelanya se­masa hidup dan menjadi pewarisnya bila meninggal.”

Dengan gencar setan membisiki dan memprovokasi mereka hingga mereka membunuh rajanya dan mengangkat saudaranya untuk menggantikannya.

Kini Ashhamah diasuh oleh pamannya. Tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, penuh semangat, ahli berargumen dan berkepribadian luhur. Ia menjadi andalan pamannya dan diutamakan lebih daripada anak-anaknya sendiri.

Namun setan kembali memprovokasi para pembesar Habasyah. Mereka kembali berembuk. Di antara mereka berkata: “Kita kha­wa­tirkan bila kerajaan ini jatuh ke tangan pemuda itu, pastilah dia akan membalas dendam atas kematian ayahandanya dahulu.”

Akhirnya mereka menghadap raja dan berkata: “Tuanku, kami ti­­dak bisa merasa aman dan tenteram bila Tuan belum membunuh Ashhamah atau menyingkirkannya dari sini. Dia telah beranjak de­wasa dan kami khawatir dia akan balas dendam.”

Mendengar permintaan tersebut raja sangat murka dan berkata: “Se­jahat-jahat kaum adalah kalian! Dahulu kalian membunuh ayahnya dan sekarang kalian memintaku untuk membunuhnya pula. Demi Allah aku tak akan melakukannya.”

Mereka berkata: “Kalau begitu kami akan mengasingkannya dari negeri ini.” Sang raja tak berdaya menghadapi tekanan dan paksaan para pejabat yang jahat itu.

Tak lama setelah diusirnya Ashhamah tiba-tiba terjadi peristiwa yang di luar dugaan. Badai mengamuk disertai guntur dan hujan le­bat. Sebatang pilar istana roboh menimpa sang raja yang sedang berduka akibat kepergian keponakannya. Beberapa waktu kemudian dia wafat.

Rakyat Habasyah berunding untuk memilih raja baru. Mereka meng­harapkan salah satu dari dua belas putera raja, namun ternyata tak ada satupun dari mereka yang layak menduduki tahta. Mereka menjadi cemas dan gelisah, lebih-lebih setelah mendapati bahwa negeri-negeri tetangga menunggu kesempatan untuk menyerang. Ke­mudian ada salah seorang di antara mereka berkata: “Demi Allah, tak ada yang patut menjadi pemimpin kalian kecuali pemuda yang kalian usir itu, jika kalian memang peduli dengan negeri Habsyah, maka carilah dia dan pulangkanlah dia.

Merekapun bergegas mencari Ashhamah dan membawanya pu­lang ke negerinya. Lalu mereka meletakkan mahkota di atas kepala­nya dan membai’atnya sebagai raja. Mereka memanggilnya dengan Najasyi. Dia memimpin negeri secara baik dan adil. Kini Habasyah diliputi kebaikan dan keadilan setelah sebelumnya didominasi oleh kezhaliman dan kejahatan.

Saat yang bersamaan dengan naiknya Najasyi menduduki tah­ta di Habsyah, di tempat lain Allah S.W.T mengutus Nabi-Nya, Muhammad S.A.W untuk membawa agama yang penuh hidayah dan kebenaran, satu per satu assabiqunal-awwalun memeluk agama ini.

Orang-orang Quraisy mulai mengganggu dan menganiaya me­reka. Ketika Makkah sudah terasa sesak bagi kaum muslimin karena gencarnya tekanan-tekanan musyrikin Quraisy, Rasulullah S.A.W ber­sab­da: “Di negeri Habasyah bertahta seorang raja yang tidak suka ber­laku zhalim ter­hadap sesama. Pergilah kalian kesana dan berlin­dunglah di dalam pe­me­rintahannya sampai Allah S.W.T mem­bukakan jalan keluar dan mem­bebaskan kalian dari kesulitan ini.“

Maka, berangkatlah rombongan muhajirin pertama dalam Islam yang berjumlah sekitar 80 orang ke Habasyah. Di negeri baru itu, me­­reka mendapatkan ketenangan dan rasa aman, bebas menikmati manisnya takwa dan ibadah tanpa gangguan.

Akan tetapi, pihak Quraisy tidak tinggal diam setelah mengetahui bahwa kaum muslimin bisa hidup tenang di Habasyah. Mereka segera berunding menyusun makar untuk menghabisi kaum muhajirin atau menarik mereka kembali ke Makkah.

Mereka mengirimkan dua orang utusannya kepada Najasyi di Habasyah. Keduanya orang pilihan dan pandai berdiplomasi, yaitu Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka berangkat dengan membawa hadiah-hadiah dalam jumlah besar untuk Najasyi dan para pejabat tinggi Habasyah yang dikenal menyukai barang-barang dari Makkah.

Sesampainya di Habasyah, keduanya terlebih dahulu menjumpai pa­ra pejabat sambil menyuap mereka dengan hadiah-hadiah yang dibawa. Keduanya berkata: “Di negeri Anda telah tinggal sejumlah pe­­ngacau dari kota kami. Mereka keluar dari agama nenek moyang dan meme­cah belah persatuan kami. Maka nanti jika kami mengha­dap Najasyi dan membicarakan masalah ini, kami mohon Anda semua mendukung kata-kata kami untuk menentang agama mereka tanpa bertanya. Kami adalah kaum mereka. Kami lebih mengenal siapakah mereka dan mengharapkan agar kalian sudi menyerahkan mereka kepada kami.”

Setelah memilih saat yang tepat, Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah menghadap Najasyi. Mereka terlebih dahulu sujud me­nyem­bah seperti yang biasa dilakukan orang-orang Habsyi. Najasyi me­nyam­but keduanya dengan baik karena sebelumnya telah kenal de­ngan Amru bin Ash. Kemudian tokoh Quraisy itu memberikan ha­­­diah-hadiah yang indah disertai titipan salam dari para pemuka Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan.

Raja Najasyi menghargai hadiah-hadiah pemberian mereka. Kemu­dian Amru mulai bicara: “Tuan, telah tiba di negeri Anda beberapa orang pengacau dari kaum kami. Mereka telah keluar dari agama ka­­mi dan tidak pula menganut agama Anda. Mereka mengikuti aga­ma baru yang kami tidak mengenalnya begitu pula Anda. Kami berdua di­utus oleh pemimpin kaum kami untuk meminta agar Tuanku me­ngem­ba­likan mereka kepada kaumnya. Karena kaumnyalah yang le­bih tahu apa yang diakibatkan oleh agama yang baru itu, berupa fit­nah dan ke­­ka­cauan yang mereka timbulkan.”

Najasyi menoleh kepada para penasihat istana dan meminta pen­dapat mereka. Mereka berkata: “Benar Tuanku, kita tidak tahu tentang agama baru itu dan tentunya kaum mereka lebih paham akan hal itu daripada kita.” Najasyi berkata: “Tidak, Demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada siapapun sebelum mendengarkan ke­terangan mereka sendiri dan mencari tahu tentang kepercayaan me­reka. Bila mereka dalam kejahatan, maka aku tidak keberatan untuk menyerahkan kepada kalian. Tetapi kalau mereka dalam kebenaran, maka aku akan melindungi dan memelihara mereka selama mereka ingin tinggal di negeri ini. Demi Allah, aku tidak akan melupakan ka­runia Allah S.W.T kepada diriku yang telah mengembalikan aku ke negeri ini karena ulah orang-orang yang keji.”

Kaum muslimin yang hijrah itupun dipanggil Najasyi ke istana. Mereka menjadi bertanya-tanya, lalu saling bertukar pikiran sebelum berangkat. Di antara mereka ada yang berkata: “Apa jawaban kita nan­ti jika ditanya tentang agama kita?”

Yang lain menjawab: “Kita katakan saja apa yang difirmankan Allah dalam kitab-Nya dan kita jelaskan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W tentang Rabb-nya.”

Berangkatlah mereka menuju istana. Di sana mereka melihat Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, sementara uskup-uskup Najasyi duduk berkeliling dengan pakaian kebesaran mereka dengan kitab-kitab yang terbuka di tangan. Kaum muslimin duduk di tempat yang telah disediakan setelah memberi salam secara Islam.

Amru bin Ash menoleh kepada mereka dan bertanya: “Mengapa kalian tidak sujud kepada raja?” Merekapun menjawab: “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah S.W.T ”

Najasyi menggeleng-gelengkan kepala karena kagum dengan ja­wa­ban itu. Dia memperhatikan mereka dengan pandangan simpati, lalu berkata: “Apa sebenarnya agama yang kalian anut? Kalian me­ninggalkan agama nenek moyang kalian dan tidak pula mengikuti agama kami.”

Setelah memohon ijin, Ja’far menjawab: “Wahai Raja, sesung­guhnya kami sama sekali tidak menciptakan agama baru. Tetapi Muhammad bin Abdullah telah diutus oleh Rabb-nya untuk menye­barkan agama dan petunjuk yang benar serta mengeluarkan kami dari kegelapan menuju terang benderang. Pada awalnya kami adalah kaum yang hi­dup dalam kebodohan. Kami menyembah api, memutuskan hu­bu­ngan keluarga, memakan bangkai, berlaku zhalim, tidak me­nyayangi tetangga dan yang kuat selalu menekan yang lemah. Dalam kondisi demikian, Allah S.W.T mengutus rasul yang kami ketahui asal-usulnya, kami percayai kejujuran, amanah dan kesuciannya untuk me­nyeru kami kepada Allah S.W.T dan mengajak kami melakukan ibadah dan mengesakan-Nya. Dia memerintahkan agar kami me­ne­gakkan shalat, membayar zakat, shiyam pada bulan Ramadhan dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan batu-batu. Beliau memerintah­kan kepada kami agar senantiasa jujur dalam berbicara, menunaikan amanah, menyambung persaudaraan, berbuat baik kepada tetangga, menjauhi yang haram, dan menghargai darah. Beliau melarang kami berzina, bersaksi palsu dan memakan harta anak yatim. Maka kami beriman dan mengikuti risalahnya serta menjalankan apa yang beliau bawa.

Sekarang, kami hanya beribadah kepada Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, mengharamkan apa-apa yang diharamkan bagi kami dan menghalalkan apa-apa yang dihalalkan. Tetapi kaum kami me­musuhi dan menyiksa kami agar kami kembali kepada agama nenek moyang, agar kami kembali menyembah patung-patung berhala se­telah menyembah Allah S.W.T. Karena mereka berlaku zhalim dan meng­halangi kami menjalankan agama, kami lari kemari untuk mencari tempat berlindung. Kami memilih negeri Anda dengan harapan tidak mendapatkan perlakuan yang zhalim disini.”

Najasyi bertanya kepada Ja’far bin Abi Thalib: “Apakah kalian mem­­bawa sesuatu yang dibawa oleh Nabi itu tentang Rabb-nya?” Beliau menjawab: “Ya, ada.” Najasyi berkata: “Tolong bacakan untuk kami.”

Lalu Ja’far membacakan surat Maryam:

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, ma­ka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Ka­mi mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesung­guh­nya aku berlindung daripadamu kepada Rabb- Yang Maha Pe­murah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ia (Jibril) berkata: “Sesung­guhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabb-mu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang ma­nusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah . Rabb-mu berfirman: “Hal itu adalah mudah ba­gi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang su­dah diputuskan.” Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyi­sihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Rabb-mu telah menjadikan anak sungai di ba­wahmu.” (QS Maryam 16-24)

Tampaklah Najasyi menangis terharu mendengarnya, demikian pula uskup-uskup yang hadir di situ hingga kitab-kitab mereka basah oleh tetesan air mata.

Najasyi berkata kepada utusan Quraisy tersebut: “Apa yang me­re­­ka bacakan kepada kami dan apa yang dibawa oleh Isa As berasal dari sumber yang sama. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan me­reka sama sekali kepada kalian selama aku masih hidup.” Kemu­dian dia bangkit dari singgasananya dan pertemuan itupun dibu­bar­kan.

Maka keluarlah Amru bin Ash dengan gusar. Ia berkata kepada kawannya: “Demi Allah, Aku akan menghadap Najasyi lagi besok. Akan aku katakan sesuatu yang bisa membangkitkan amarahnya sam­pai ke dasar hatinya sehingga dia menghabisi mereka.” Abdullah bin Abi Rabi’ah yang lebih lunak sikapnya berusaha mencegah: “Ja­nganlah engkau melakukannya wahai Amru! Bagaimanapun mereka masih sanak famili kita meskipun berbeda paham dengan kita.”

Namun Amru berkata: “Demi Allah aku akan katakan bahwa me­reka telah menyebutkan sesuatu yang buruk tentang Isa bin Maryam, mereka menyembunyikan sesuatu, mereka telah menuduh Isa dan menga­takan bahwa Isa hanyalah seorang hamba.”

Sesuai yang direncanakan, esok harinya Amru bin Ash meng­ha­dap kepada Najasyi dan berkata: “Tuanku, kemarin mereka telah me­ngu­raikan sesuatu tetapi menyembunyikan banyak hal lainnya. Mereka juga mengatakan bahwa Isa adalah hamba.”

Kaum muslimin kembali dipanggil ke istana. Mereka ditanya: “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”

Ja’far menjawab: “Kami mengatakan sebagaimana yang dika­takan oleh Nabi S.A.W.” Najasyi berkata: “Bagaimana kata-katanya?” Ja’far menjawab: “Beliau berkata bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Dia merupakan Kalimatullah yang diletakkan pada diri Maryam, se­orang perawan suci.”

Najasyi berkata: “Demi Allah, tidak ada pendapat kalian yang sa­lah tentang Isa As seujung rambutpun.” Terdengar bi­sikan-bisikan para uskup yang terkesan mengingkarinya. Najasyi memandang me­reka dengan tajam lalu berkata tegas: “Aku tidak peduli dengan apa yang kalian bisikkan.” Beliau berkata kepada Ja’far dan kawan-ka­wan­nya: “Kalian boleh tinggal dengan aman di negeriku. Barangsiapa berani mengganggu kalian akan aku tindak dengan tegas. Aku tidak sudi disuap dengan segunung emas untuk mengganggu seorangpun di antara kalian.”

Beliau perintahkan kepada pengawalnya: “Kembalikan hadiah-hadiah dari Amru bin Ash dan kawannya itu. Aku tidak membu­tuh­­­kannya. Allah tidak menerima suap dariku ketika aku dikem­balikan ke negeriku, untuk apa aku menerima suap dari mereka ini?”

Negeri Habasyah bergolak. Para uskup yang tidak puas dengan keputusan itu menyebarkan isu bahwa Najasyi telah meninggalkan aga­manya dan mengikuti agama baru. Mereka juga menghasut rakyat agar menggulingkan rajanya. Beberapa lama rakyat Habasyah di­goncangkan oleh dilema besar tersebut. Bahkan beberapa orang ingin membatalkan bai’atnya kepada Najasyi.

Melihat hal itu, Najasyi mengabarkan situasi negeri kepada Ja’far bin Abi Thalib dan menyerahkan dua buah kapal. Setelah siap meng­hadapi para pembangkang, dikatakannya kepada kaum muslimin: “Naiklah kalian ke kapal itu, amati perkembangannya. Bila aku kalah, pergilah kemana kalian suka. Tapi kalau aku menang, kalian boleh kem­bali dalam perlindungan seperti semula.”

Selanjutnya Najasyi mengambil sehelai kulit kijang dan menulis­kan di atasnya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang terakhir. Dan aku bersaksi bahwa Isa adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, ruh-Nya dan Kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam.” Dipakainya tulisan itu di dada, kemudian dia mengenakan pakaian perangnya dan pergi bersama para prajuritnya.

Berdirilah Najasyi menghadapi para penentang-penentangnya. Dia berkata: “Wahai rakyat Habasyah, katakanlah, bagaimana perlakuanku terhadap kalian?” Mereka menjawab: “Sangat baik, Tuanku.” Najasyi berkata: “Lalu mengapa kalian menentangku?”

Mereka berkata: “Karena Anda telah keluar dari agama kita dan me­ngatakan bahwa Isa adalah seorang hamba.” Najasyi berkata: “Ba­gaimana menurut kalian sendiri?” Mereka menjawab: “Dia ada­lah putera Allah.”

Maka Najasyi mengeluarkan tulisan yang dipakainya di dada, diletakkan di atas meja dan berkata: “Aku bersaksi bahwa Isa bin Maryam tidaklah lebih dari yang tertulis disini.” Di luar dugaan, ternyata rakyat menerima dengan senang pernyataan Najasyi. Mereka membubarkan diri dengan lega.

Rasulullah S.A.W semakin percaya kepada Najasyi. Penghargaan Najasyi terhadap Muhajirin yang datang ke negerinya dan membuat mereka aman dalam perlindungannya, menggembirakan Nabi S.A.W. Apa­lagi setelah mendengar kecondongannya kepada Islam dan keya­kinannya akan kebenaran Al-Qur’an. Hubungan Najasyi dengan Rasululah S.A.W semakin erat.

Memasuki tahun baru 7 Hijriyah, Rasulullah S.A.W berkehendak untuk berdakwah kepada enam orang pemimpin negeri tetangga agar mau masuk agama Islam. Beliau menulis untuk mengingatkan mereka akan iman, dan menasihatkan tentang bahaya syirik dan kekufuran. Maka beliau menyiapkan enam orang sahabat. Terlebih dulu mereka mem­pelajari bahasa kaum yang hendak didatangi agar dapat menye­lesai­kan tugas dengan sempurna. Setelah siap, keenam sahabat tersebut berangkat pada hari yang sama. Di antara mereka ada Amru bin Umayah Adh-Dhamari yang diutus kepada Najasyi di negeri Habasyah.

Sampailah Amru bin Umayah Adh-Dhamari di hadapan Najasyi. Dia memberi salam secara Islam dan Najasyi menjawabnya dengan lebih indah serta menyambutnya dengan baik.

Setelah dipersilakan duduk di majelis Habasyah, Amru bin Umayah memberikan surat Rasulullah S.A.W kepada Najasyi dan lang­sung dibacanya. Di dalamnya tertulis ajakan kepada Islam, disertai bebera­pa ayat Al-Qur’an. Najasyi menempelkan surat itu di kepala dan ma­tanya dengan penuh hormat. Setelah itu dia turun dari singgasana dan menyatakan keislamannya di depan hadirin. Selesai mengucap­kan syahadat, dia berkata: “Kalau saja aku mampu untuk mendatangi Muhammad S.A.W, niscaya aku akan duduk di hadapan beliau dan mem­basuh kedua kakinya.” Kemudian beliau menulis surat jawaban pendek kepada Rasulullah S.A.W berisi pernyataan menerima dakwahnya dan keimanan atas nubuwatnya.

Selanjutnya Amru bin Umayah menyodorkan surat Nabi S.A.W yang kedua. Dalam surat itu Rasulullah minta agar Najasyi bertindak seba­gai wakil untuk pernikahan beliau dengan Ramlah binti Abi Sufyan yang termasuk rombongan Muhajirin ke Habasyah.

Sedangkan Ramlah yang biasa dipanggil Ummu Habibah itu, me­miliki liku-liku hidup yang berakhir dengan kebahagiaan. Meski sepintas, marilah kita simak perjalanannya.

Ramlah binti Abi Sufyan adalah salah satu penentang kepercayaan ayahnya sang pemuka Quraisy itu. Dia menyatakan keimanannya kepada Allah S.W.T dan rasul-Nya bersama suaminya Ubaidullah bin Jahsy. Oleh karena itu pasangan suami istri ini termasuk yang menda­pat gangguan dari orang-orang Quraisy.

Keduanya ikut dalam rombongan Muhajirin yang berlindung ke­pada Najasyi di Habasyah demi mempertahankan Dienullah. Seperti telah disaksikan, para Muhajirin itu mendapat pelayanan yang baik dan jaminan keamanan dari Najasyi, sehingga terbayang dalam angan Ummu Habibah bahwa semua deritanya akan segera berlalu. Dia tidak tahu apa yang disembunyikan takdir untuknya.

Allah S.W.T berkehendak menguji Ummu Habibah dengan ujian berat yang mampu menggoncangkan akal. Tidak disangka, Ubaidullah bin Jahsy menjadi murtad. Dia masuk agama Nasrani dan berbalik memu­suhi Islam serta kaum muslimin. Pekerjaannya hanya duduk-duduk di tempat maksiat dan menjadi pemabuk berat. Bahkan dia membe­rikan tawaran kepada Ummu Habibah, ikut agama Masehi seperti dirinya atau diceraikan.

Di hadapan Ummu Habibah ada tiga pilihan yang sulit. Pertama, mengikuti suami dan menjadi seorang Nasrani, yang dengan demi­kian dia akan dikutuk dunia dan akhirat. Kedua, kembali kepada ayah­nya di Makkah yang masih hidup dalam kemusyrikan. Dan ke­tiga, tetap di Habasyah, seorang diri dalam pengasingan bersama pu­terinya, Habibah.

Akhirnya beliau mengutamakan ridha Allah S.W.T di atas segala ma­sa­lah dan bertekad tetap tinggal di Habasyah bersama Muhajirin lainnya sampai Allah S.W.T menunjukkan jalan keluar.

Tak berselang lama beliau merasakan duka cita, suaminya mati da­lam keadaan mabuk. Setelah masa iddahnya habis, datanglah pertolongan Allah untuknya.

Pagi itu amat cerah, saat terdengar suara ketukan di pintu rumah Ummu Habibah. Ketika dibuka, seorang wanita utusan Najasyi memberi salam dan berkata: “Tuanku Najasyi mengirimkan salamnya untuk Anda dan berpesan bahwa Muhammad Rasulullah S.A.W telah meminang Anda. Baginda Najasyi ditunjuk sebagai wakil untuk akad nikah. Maka bila Anda menerima pinangan itu, bersiaplah segera siapa yang Anda tunjuk sebagai wali.”

Betapa tidak terukur kebahagiaan Ummu Habibah. Beliau berkata kepada utusan tersebut: “Semoga Anda mendapatkan kebahagiaan dari Allah, Semoga Anda mendapatkan kebahagiaan dari Allah,” Kemudian Ummu Habibah berkata: “Aku menunjuk Khalid bin Sa’id bin Ash sebagai waliku karena dialah kerabatku yang terdekat di negeri ini.”

Begitulah, hari itu istana Najasyi tampak semarak. Seluruh sahabat yang ada di Habasyah hadir untuk menyaksikan pernikahan Ummu Habibah dengan Rasulullah S.A.W. Setelah segalanya siap, Najasyi me­ngu­capkan tahmid dan berkata: “Amma ba’du, saya penuhi per­mintaan Rasulullah S.A.W untuk menikah dengan Ramlah binti Abi Sufyan. Dan saya berikan mahar sebagai wakil Rasulullah berupa em­pat ratus dinar emas berdasarkan sunnatullah dan sunnah Rasul-Nya.”

Khalid bin Sa’id bin Ash sebagai wali Ummu Habibah berkata: “Saya terima permintaan Rasulullah dan saya nikahkan Ramlah binti Abi Sufyan yang memberi saya wakalah dengan Rasulullah. Semoga Allah S.W.T mem­­berkahi rasul dan istrinya. “ Selamat atas Ramlah dengan anu­gerah yang agung tersebut.

Kemudian, Najasyi mempersiapkan dua buah kapal untuk me­ngan­tarkan Ummul mukminin Ramlah binti Abi Sufyan dan puteri­nya, Habibah beserta sisa-sisa kaum muslimin yang ada di Habasyah. Sejumlah rakyat Habsyi yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya turut bersama mereka. Mereka rindu untuk berjumpa langsung de­ngan Nabi S.A.W dan shalat di belakang beliau. Rombongan tersebut di­pimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib.

Najasyi juga memberikan hadiah-hadiah kepada Ummu Habibah berupa wewangian mahal milik istri-istrinya, juga beberapa bingkisan untuk Rasulullah, di antaranya ada tiga batang tongkat Habasyah yang terbuat dari kayu-kayu pilihan. Di kemudian hari, satu tongkat itu dipakai oleh beliau sendiri, dan yang lain dihadiahkan kepada Umar bin Khathab dan Ali bin Abi Thalib. Bilal selalu membawanya bila berjalan di muka Rasulullah S.A.W. Tongkat tersebut juga biasa di­dirikan di hadapan Nabi (sebagai sutrah) ketika ditegakkan shalat. Yakni tatkala tempat-tempat yang tidak ada masjid atau bangunan lain­nya atau di dalam perjalanan, dalam shalat-shalat ‘Ied dan shalat istisqa’. Pada masa khilafah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Bilal adalah yang memegang tongkat itu. Lalu pada zaman Umar bin Khathab dan Utsman bin Affan, tongkat tersebut beralih ke tangan Sa’ad Al-Qarazhi. Begitu seterusnya berganti setiap pergantian khalifah.

Ada juga hadiah perhiasan-perhiasan, di antaranya ada cincin emas. Nabi S.A.W menerimanya tetapi tidak dipakai sendiri melainkan diberikan kepada Umamah, cucu dari puteri beliau, Zaenab: “Pakai­lah ini wahai cucuku. “

Tidak berselang lama sebelum Fathu Makkah, Najasyi wafat, Rasulullah S.A.W memanggil para sahabat untuk melakukan shalat ghaib. Padahal Rasul S.A.W belum pernah shalat ghaib sebelum wafatnya dan tidak pula setelahnya. Semoga Allah meridhai Najasyi dan men­jadikan Jannah-Nya yang kekal sebagai tempat kembalinya. Sungguh dia telah me­nguat­kan kaum muslimin di saat mereka lemah, mem­be­rikan rasa aman di saat mereka ketakutan dan dia melakukan hal itu semata-mata ka­rena mencari ridha Allah.

Wednesday, 30 May 2018

Berapakah Tinggi Nabi Adam...???


Anda mungkin pernah melihat beberapa foto atau video makam-makam yang diyakini sebagai makam Nabi. Makam-makam itu tersebar diberbagai negara seperti Arab Saudi, Yordania, Irak, Yaman dan Juga Palestina. Makam-makam itu terlihat panjang dan besar hal itu menunjukan bahwa jenazah yang dimakamkan di dalamnya juga berukuran besar.

Meskipun sebenarnya kita tidak mengetahui secara pasti kebenaran makam-makam tersebut. Karena seluruh nabi tidak diketahui secara pasti lokasi sebenarnya kecuali makam Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam dan makam Nabi Ibrahim Alaihissallam. Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam di makamkan dirumahnya di Madinah sementara Nabi Ibrahim Alaihissallam di Goa Alkalil Palestina.

Namun tahukah anda beberapa bukti dan fakta menunjukan bahwa ukuran para nabi dan manusia masa lampau jauh lebih besar.
Tinggi Nabi Adam

Nabi Adam Alaihissallam merupakan manusia pertama yang diciptakan di bumi ini. Sebelum menciptakan Adam Allah telah menceritakan rencananya kepada malaikat hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. [QS. Al-Baqarah 30]

Nabi Alaihissallam memiliki postur tinggi badan mencapai 60 hasta atau sekitar 27,43 meter. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Allah telah menjadikan Adam dengan ketinggian 60 hasta kemudian (Allah) berfirman: Pergilah dan memberi salamlah kepada para malaikat itu, dan dengarkanlah mereka memberi hormat kepada engkau. Itulah kehormatan engkau dan keturunan engkau, lalu (Adam) mengucapkan: Assalamu ‘alaikum, maka (para malaikat) mengucapkan assalamu alaika wa rahmatullah, (para malaikat) menambahkan: warahmatullah, maka setiap orang yang masuk surga serupa dengan Adam (dalam hal perawakan/postur dan gambaran), dan manusia itu senantiasa bertambah kecil sampai sekarang”. [HR Bukhari & Muslim].

Hal ini diperkuat dengan penelitian biologist dari dari Hebrew University, Dr. Shlomi Lesser. Dalam jurnal yang berjudul Ha-Mada Ha-Yisraeli B’Angleet V’Ivreet, Dr. Shlomi menyatakan, jika tinggi manusia rata-rata seperti saat ini, maka tinggi leluhur manusia dahulu seharusnya 90 kaki atau 27 meter. Hal itu terjadi karena manusia mengalami penyusutan ukuran badan yang disebut dengan genetic bottleneck.

Penduduk Surga Memiliki Tinggi Seperti Tinggi Nabi Adam

Tahukah anda bahwa penduduk surga kelak akan memiliki tinggi badan seperti Nabi Adam Alaihissalam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga seperti rembulan yang bersinar di malam purnama, kemudian rombongan berikutnya seperti bintang yang paling terang di langit, mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak membuang ludah, tidak beringus….istri-istri mereka adalah para bidadari, mereka semua dalam satu perangai, rupa mereka semua seperti rupa ayah mereka Nabi Adam, yang tingginya 60 hasta menjulang ke langit” [HR Al-Bukhari]

Monday, 28 May 2018

Ibu SITI KHADIJAH (Istri Rasulullah)


- Tak Tahan Air Mata, Banyak Yang Menangis Membaca Kisah Ibu Siti Khadijah (Istri Rasulullah) ini

- Ibu Siti Khadijah Memang Wanita Istimewa.
DUA PERTIGA (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW. 
Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. 

- Namun ketika wafat, tak selembar kafanpun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Ibu Siti Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur.

- Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. 
Aku malu dan takut memintanya sendiri”.

- Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai istriku Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

- Ibu Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Rasulullah.

- Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

- Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.
Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”
“Kafan ini untuk Siti Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

- Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. 
Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

- Rasulullah berkata di dekat jasad Siti Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu.

- Pengabdianmu kepada Islam dan dirimu sungguh luar biasa. 
Allah Maha mengetahui semua amalanmu. 
Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. 
Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. 
Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

- Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

- Siti Khadijah
Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

- Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. 
Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. 
Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

- Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. 
Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

- Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. 
Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.
“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. 
Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. 
Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. 
Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. 
Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. 
Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

- Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ya Ilahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.

- Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. 
Siapa lagi yang akan membantuku?”
“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib.
jawab ,menantu Rasullulah.....

Barakallahu fii umriik 

Semoga yang like dan coment Aamiin diberkahi rejeki berlimpah dan bisa sowan makam Rasulullah dan Ibu Siti Khadijah

Sunday, 27 May 2018

Pohon SAHABI


Pohon Sahabi yang menjadi saksi bisu pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Biarawan Kristen bernama Bahira. Telah ditemukan kembali oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan otoritas pemerintah Yordania. ketika memeriksa arsip negara di Royal Archives. 
Mereka menemukan referensi dari  teks-teks kuno yang menyebutkan bahwa Pohon Sahabi Berada di wilayah padang pasir diutara Yordania.

Setelah 1400 tahun berlalu,  pohon ini ditemukan masih hidup dan tetap tumbuh kokoh di tengah ganasnya gurun Yordania bersama beberapa ulama terkenal termasuk Syekh Ahmad Hassoun, Mufti Besar Suriah, Pangeran Ghazi. Mengadakan pengamatan dan ternyata benar pohon tua itulah yang disebutkan dalam catatan biarawan Bahira.

Kini Pohon tersebut dilestarikan oleh pemerintah Yordania dan dipantau secara rutin keberadaannya. 

Keberadaan pohon ini memang cukup unik dan dinilai tidak cocok tumbuh dilingkungan sekitarnya. 
Pasalnya lingkungan sekitar pohon  itu, merupakan tanah kering dan sangat gersang, sementara pohon Sahabi menjadi satu-satunya pohon yang tumbuh subur dengan daun yang rimbun.  

Kondisi ini menentang kegersangan dan ketiadaan warna dari lingkungan di sekitar pohon. Meskipun kekuatan matahari ditengah gurun sangat terik, namun akan terasa teduh ketika berada di bawah pohon ini. 

Tiga manuskrip kuno yang ditulis oleh Ibn Hisham, Ibn Sa'd al-Baghdadi, dan Muhammad Ibn Jarir al-Tabari menceritakan tentang kisah Bahira yang bertemu dengan bocah kecil calon rasul terakhir. 

Saat itu Muhammad baru berusia 9 atau 12 tahun. Ia menyertai pamannya Abu Thalib dalam perjalanan untuk berdagang ke Suriah.

Pada suatu hari, Biarawan Bahira mendapat firasat, kalau ia akan bertemu dengan sang nabi terakhir..   tiba tiba ia melihat rombongan kafilah pedagang Arab, dan melihat pemuda kecil yang memiliki ciri-ciri  sesuai yang digambarkan dalam kitabnya. 

kemudian Bahira mengundang kafilah tersebut dalam sebuah perjamuan. 
Semua anggota kafilah menghadiri  kecuali anak yang Ia tunggu-tunggu. Ternyata. Muhammad kecil sedang menunggu di bawah pohon untuk menjaga unta-unta.

Bahira keluar mencarinya dan ia sangat takjub menyaksikan cabang2 pohon Sahabi merunduk melindungi sang pemuda dari terik Matahari. Dan segumpal awan pun ikut memayungi ke manapun ia pergi.

Bahira pun meminta agar bocah kecil tersebut diajak serta berteduh dan bersantap dalam perjamuan.  Dia pun segera meneliti dan menanyai pemuda kecil ini. dan  menyimpulkan bahwa Dia adalah utusan terakhir yang dijelaskan dalam Alkitab. 

Bahira pun meyakinkan paman anak itu yakni Abu Thalib untuk kembali ke Makkah, karena orang-orang Yahudi tengah mencari Muhammad SAW untuk membunuhnya .

Setelah berselang 1400 tahun kemudian, pohon yang pernah meneduhi Muhammad itu masih berdiri tegak, menjadi satu-satunya pohon yang berhasil hidup di tengah padang pasir gersang.  
Pohon ini secara ajaib diawetkan oleh Allah untuk waktu yang panjang. Namun siapapun masih bisa menyentuh dan berlindung di bawah cabangnya yang senantiasa rimbun.

Wednesday, 23 May 2018

3 Amal yang Pahalanya Tidak Terputus


Ada sepasang suami istri yang alhamdulillah sangat kaya dan juga shaleh.

Mereka berulangkali berhaji. Setiap tahun juga mereka melakukan umrah. Berapa banyak harta yang mereka habiskan untuk Haji dan Umrah.

Seorang ulama berkata bahwa amal mereka itu bagus dan mendapat pahala. Hanya saja, jika mereka sudah meninggal, tentu mereka tak bisa melakukan Haji dan Umrah lagi. Pahalanya pun berhenti mengalir.

Nah, maukah saya beritahu amal-amal yang pahalanya akan terus mengalir meski bapak ibu sudah meninggal dunia? Ini dia:

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Allah memberi ganjaran sekecil apa pun amal yang kita perbuat. Meski hanya sebesar dzarrah atau debu:

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” [An Nisaa’ 40]

Setiap kebaikan yang kita lakukan mulai dari kewajiban seperti sholat, puasa, zakat hingga amal yang sunnah insya Allah akan dibalas Allah pahala yang berlipat ganda.

Bahkan ada orang yang karena mampu setiap tahun pergi berhaji atau umrah dengan berharap mendapat pahala yang besar. Sesungguhnya itu baik. Namun sayangnya saat kita meninggal, kita tidak akan mendapat pahala itu lagi. Saat kita mati, terputus amal kita selain 3 amal yang di atas.

Oleh karena itu agar pahala kita terus mengalir meski kita telah tiada, hendaknya kita berusaha mengerjakan 3 amal yang di atas. Bagaimana pun kita tidak tahu berapa banyak dosa atau maksiyat yang telah kita perbuat. Berapa banyak orang yang kita sakiti. Jadi kalau pahalanya pas-pasan, bisa jadi akhirnya kita terjerembab ke neraka jahannam.

Sedekah Jariyah

Menurut Imam al-Suyuti (911 H) ada 10 amal yang pahalanya terus menerus mengalir, yaitu: 1) ilmu yang bermanfaat, 2) doa anak sholeh, 3) sedekah jariyah (wakaf), 4) menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, 5) mewakafkan buku, kitab atau Al Qur’an, 6) berjuang dan membela tanah air, 7) membuat sumur, 8) membuat irigasi, 9) membangun tempat penginapan bagi para musafir, 10) membangun tempat ibadah dan belajar.

Itu hanya contoh kecil saja. Tentu saja sedekah jariyah tidak terbatas pada hal yang di atas. Segala hal yang bermanfaat yang bisa dinikmati masyarakat umum seperti membangun jalan, jembatan, website atau TV yang bermanfaat insya Allah pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama yang kita bangun itu masih memberikan manfaat.

Menanam pohon mangga atau pohon kurma sehingga buahnya bisa dinikmati atau pun pohon yang rindang seperti pohon Beringin sehingga orang bisa berteduh pun bisa mendapatkan pahala.

Membangun masjid pun pahalanya amat besar dan tetap akan mengalir selama masih ada orang yang memakainya untuk beribadah:

Hadits riwayat Usman bin Affan ra: “Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga. (H.R Bukhari dan Muslim)

Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu akan bermanfaat jika kita sendiri terlebih dahulu mengamalkannya. Kemudian kita ajarkan ke orang lain. Jika orang yang kita ajarkan itu juga mengamalkan ilmunya, insya Allah kita akan mendapat pahala meski kita telah tiada.

Kita bisa menjadi guru, dosen, atau mendirikan sekolah/pesantren sehingga ilmu yang bermanfaat bisa diajarkan ke orang banyak.

Di zaman sekarang ini kita bisa mengajarkan ilmu ke banyak orang sekaligus. Dengan membuat buku yang bermanfaat, kita dapat membayangkan bagaimana kalau ada 1 juta orang yang membaca buku tersebut dan mengamalkannya.

Dengan membuat website yang berisi ilmu yang bermanfaat misalnya website Islam sehingga puluhan ribu orang bisa membaca dan mengamalkan ilmunya, insya Allah juga akan mendapat pahala. Jika ada orang yang meng-copy-paste tulisan anda, jangan sedih. Justru mereka membantu menyebarkan ilmu anda sehingga jika website anda tutup karena anda tidak membayar sewa domain atau hosting, ilmu anda tetap tersebar dan dinikmati orang lain.

Mendirikan TV Islam atau TV Komunitas yang bisa memberikan ilmu yang bermanfaat pun insya Allah akan mendapat pahala.

Bagaimana jika kita bukan orang yang pintar atau ilmu kita cetek? Jangan sedih. Dengan membantu ulama sehingga ilmunya tersebar, membantu penerbitan buku yang bermanfaat, membantu pembuatan dan pemeliharaan website atau TV Islam juga bisa membuat anda ikut mendapat pahala. Karena Allah menghitung setiap amal yang kita lakukan sekecil apa pun amal itu!

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [Al Maa-idah 2]

Rasulullah saw. bersabda:

Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda:

Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.  Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasaí.

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].


Jadi jika kita turut andil dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat, insya Allah, Allah akan melihatnya.

Anak Soleh yang Mendoakannya

Jika kita punya anak soleh yang mendoakan kita, insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang saleh.

Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang saleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaannya di kantor agar bisa fokus mendidik anaknya.

Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung?

Di situ tidak dijelaskan apakah anak saleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika kita memelihara anak yatim pun kita tetap akan dapat pahala jika mereka jadi anak yang saleh dan mendoakan kita.

Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya. (Hadis riwayat Ahmad)

Dari situ jelas bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang insya Allah akan masuk surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat tinggi karena berada di dekat Nabi Muhammad SAW laksana jari telunjuk dengan jari tengah.

Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santuni mereka. Bantu mereka.

Menyumbang ke keluarga miskin yang ada anaknya pun atau panti asuhan insya Allah bisa mendapatkan pahala.

Text Widget

Sample text

Ads 468x60px

Labels

Followers

Featured Posts

Find Us On Facebook

Semoga

Featured Video

Sponsor

Follow us

Video Of Day

Flickr Images

Popular posts

POPULAR POSTS