Suasana proses pembuatan Mi Lethek cap Garuda di Dusun Bendo, Desa
Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul.
Pabrik Mi Lethek berdiri sekitar tahun 1940 dan dikelola turun-temurun
ini beroperasi secara tradisional serta proses pembuatan masih
digerakkan oleh seekor sapi.
Suara kayu beradu sahut menyahut dengan lenguhan sapi yang
menggerakkan batu alat giling di pabrik pembuatan mi tradisional, di
Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul.
Pabrik yang telah berdiri sejak 1940-an
itulah, menjadi wadah bagi sekitar 20 warga Dusun Bendo, yang sebagian
telah berumur di atas 50 tahun, menggantungkan hidupnya sebagai pembuat
mi, yang dikenal sebagai mi lethek (lethek dalam bahasa Jawa berarti
kusam).
Berada di tepian Sungai Progo, pabrik mi lethek ini hampir
tidak menggunakan alat produksi modern. Semua peralatan menggunakan
alat tradisional, seperti alat penggiling tepung berupa batu silinder
seberat 1 ton yang ditarik menggunakan tenaga sapi, dan oven berbahan
bakar kayu.
Perbedaan hanya terlihat pada penggunaan mesin
pencetak mi menggunakan mesin. Yasir Ferry Ismatrada pemilik pabrik
mengatakan, penggunaan mesin karena pekerja yang sudah berumur dan
kecepatan proses pencetakan, dulu dibutuhkan delapan orang untuk
pengerjaan manual, sekarang hanya butuh tiga orang dibantu dengan mesin
pencetak.
Mi lethek terbuat dari bahan dasar tepung tapioka atau
tepung singkong yang dicampur dengan gaplek Kedua bahan itu diaduk
dengan menggunakan alat berbentuk silinder. Setelah bahan baku diaduk,
dimasukkan ke tungku kukusan, lalu diaduk lagi untuk mengatur kadar
airnya. Kemudian adonan tersebut dicetak dan dikukus lagi. Proses
terakhir berupa pencetakan dan penjemuran mi hingga kering.
Pabrik
yang dikelola turun-temurun ini beroperasi secara tradisional dengan
menggunakan tenaga manusia yang berusia lanjut dan hanya mampu
memproduksi mie sebanyak 10 ton setiap bulannya. Jumlah tersebut masih
jauh dari permintaan, yang bahkan hingga kini terus meningkat. Namun,
keberadaan pabrik yang masih tradisional tersebut, juga dinilai memiliki
potensi sebagai obyek wisata baru.
Mi Garuda dijual dengan harga
Rp 70.000 per lima kilogram dan dipasarkan di daerah Yogyakarta dan
sekitarnya. Walaupun di pasaran harus bersaing dengan banyaknya mi yang
diproduksi pabrik modern, mi lethek sebagai salah satu kekayaan kuliner
di Nusantara tetap bertahan hingga sekarang dengan ciri khas rasa dan
cara pembuatannya yang masih tradisional.










No comments:
Post a Comment